RI News Portal. Padangsidimpuan – Puluhan mahasiswa dari Satma PKN Kota Padangsidimpuan menggelar aksi demonstrasi dramatis di halaman Kantor DPRD setempat, Jumat (30/1/2026). Mereka membawa sesosok boneka pocong berbalut kain kafan putih yang bergoyang ditiup angin, sebagai simbol kengerian dan ketakutan yang kini menyelimuti kawasan Tor Simarsayang.
Aksi tersebut merupakan bentuk desakan mendesak kepada pemerintah daerah agar segera menertibkan Tor Simarsayang, lokasi yang semestinya menjadi pusat pendidikan tinggi namun kini berubah menjadi sarang keresahan. Di tengah kawasan itu berdiri Universitas Graha Nusantara (UGN), kampus negeri yang menjadi tujuan utama mahasiswa mencari ilmu. Ironisnya, keberadaan kampus tersebut justru dikelilingi oleh maraknya dugaan tempat maksiat yang memicu lonjakan tindak kriminal.
Menurut koordinator aksi, Yudi Anjali Siregar, tingkat kejahatan di Tor Simarsayang telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Beberapa insiden tragis seperti pembunuhan, penikaman, dan penganiayaan berulang kali terjadi di lokasi tersebut, namun pelaku-pelaku utamanya masih berkeliaran bebas tanpa penangkapan signifikan. Ia menyoroti bahwa maraknya penjualan tuak dan minuman keras di warung-warung sekitar menjadi salah satu pemicu utama suasana tidak kondusif.

“Tor Simarsayang yang dulu menjadi salah satu ikon kota kini telah kehilangan identitasnya. Kawasan ini bukan lagi tempat aman untuk menuntut ilmu, melainkan area yang angker dan menakutkan,” ujar Yudi di sela-sela aksi.
Mahasiswa peserta aksi mengaku semakin enggan mendatangi kampus karena rasa takut menjadi korban berikutnya. Mereka menilai pembiaran terhadap warung-warung yang diduga menjadi tempat maksiat telah memperburuk situasi, membuat lingkungan belajar yang seharusnya kondusif justru berubah menjadi zona rawan kejahatan.
“Kami khawatir jika tidak ada tindakan tegas sekarang, kami atau teman-teman kami bisa menjadi korban selanjutnya. Pocong yang kami bawa ini adalah representasi dari ‘hantu’ kriminalitas yang mengintai setiap hari,” tambah Yudi.
Sayangnya, aksi tersebut tidak berhasil menemui Ketua DPRD Padangsidimpuan, Sri Fitra Munawaroh, yang dikabarkan sedang berada di luar kota untuk urusan dinas. Perwakilan mahasiswa berharap aspirasi mereka dapat segera disalurkan kepada pimpinan dewan dan eksekutif daerah untuk ditindaklanjuti dengan langkah konkret, seperti razia intensif, penutupan tempat-tempat yang melanggar, serta peningkatan pengawasan keamanan di sekitar kampus.
Aksi simbolis dengan pocong ini menjadi sorotan, mencerminkan keputusasaan generasi muda terhadap kondisi sosial yang semakin memprihatinkan di tengah upaya membangun pendidikan berkualitas di wilayah tersebut.
Pewarta : Adi Tanjoeng

