RI News Portal. Seoul, South Korea — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un secara terbuka menyatakan bahwa negaranya akan segera mengumumkan langkah-langkah baru untuk memperkuat secara signifikan kemampuan nuklirnya. Pernyataan itu disampaikan tepat saat ia memantau langsung uji coba sistem peluncur roket multiple kaliber besar yang telah ditingkatkan, Selasa (28/1/2026) waktu setempat.
Menurut laporan resmi yang dirilis Rabu pagi, uji tembak tersebut bertujuan meningkatkan daya gedor dan akurasi sistem persenjataan yang disebut sebagai bagian dari “pencegah strategis” Korea Utara—istilah standar yang merujuk pada arsenal nuklir dan rudal balistiknya. Sistem peluncur roket tersebut diklaim telah mengalami penyempurnaan besar dalam hal mobilitas dan ketepatan serangan, sehingga makin sulit dilacak dan diintersep.
Foto-foto resmi yang dirilis menampilkan Kim Jong Un berjalan santai di samping truk peluncur raksasa, dengan seorang remaja perempuan yang kini semakin sering muncul di sampingnya. Gadis tersebut, yang oleh intelijen Korea Selatan diyakini bernama Kim Ju Ae dan merupakan putri bungsunya, kembali menjadi sorotan karena kehadirannya yang konsisten dalam acara militer strategis sejak akhir 2022. Kehadiran berulang sang putri di sisi ayahnya kini makin memperkuat spekulasi bahwa ia sedang dipersiapkan sebagai penerus dinasti Kim—posisi yang sebelumnya hanya dipegang oleh laki-laki dalam sejarah Korea Utara.

Dalam pernyataannya, Kim menegaskan bahwa penguatan militer, khususnya di bidang nuklir, tetap menjadi “garis kebijakan yang tak tergoyahkan” Partai Buruh Korea. Ia secara eksplisit menyebut kongres partai yang akan digelar Februari mendatang—pertemuan tertinggi pertama dalam lima tahun terakhir—sebagai panggung untuk mengumumkan “rencana tahap lanjutan” dalam memperkokoh kemampuan pencegahan nuklir.
Para pengamat mencatat, rangkaian uji coba intensif sejak akhir 2025—mulai dari rudal hipersonik, rudal jelajah strategis jarak jauh, hingga sistem anti-udara generasi baru—kemungkinan besar merupakan bagian dari upaya Pyongyang untuk menunjukkan pencapaian teknologi sebelum kongres dibuka. Beberapa analis bahkan menduga pengumuman besar yang dimaksud Kim bisa mencakup pengembangan hulu ledak multipel (MIRV) atau penyempurnaan teknologi pelindung masuk kembali atmosfer (reentry vehicle) untuk rudal antarbenua yang menyasar wilayah Amerika Serikat.

Meski demikian, detail teknis rencana “tahap lanjutan” tersebut masih diselimuti kabut. Korea Utara belum pernah membuktikan secara terbuka bahwa mereka telah menguasai teknologi MIRV maupun pelindung termal yang andal untuk misil jarak sangat jauh. Kedua kemampuan itu dianggap krusial jika Pyongyang benar-benar ingin menembus sistem pertahanan rudal canggih milik Amerika dan sekutunya.
Sejak puncak diplomasi dengan Donald Trump runtuh pada 2019, Pyongyang secara konsisten menolak pembicaraan dengan Washington dan Seoul. Namun sejumlah pengamat menilai pintu dialog tetap mungkin terbuka—dengan syarat Kim mendapatkan jaminan imbalan ekonomi dan jaminan keamanan yang nyata, meskipun hanya atas langkah denuklirisasi yang sangat terbatas.
Kongres Partai Buruh Februari mendatang diproyeksikan tidak hanya menjadi ajang penguatan legitimasi internal, tetapi juga panggung untuk menyampaikan pesan keras kepada dunia bahwa program nuklir Korea Utara bukan sekadar alat bertahan, melainkan instrumen utama dalam strategi kelangsungan kekuasaan dan proyeksi kekuatan regional.
Dengan kehadiran putri remajanya yang semakin terlihat, Kim Jong Un sekaligus mengirim sinyal politik ganda: kesinambungan dinasti di dalam negeri, dan ketegasan tanpa kompromi di panggung internasional.
Pewarta : Anjar Bramantyo

