RI News Portal. New York, 29 Januari 2026 – Lebih dari setahun setelah dimulainya masa jabatan kedua Donald Trump, kebijakan penegakan imigrasi yang agresif telah memicu reaksi penolakan yang tidak biasa luasnya. Bukan hanya dari kalangan aktivis politik atau kelompok oposisi, melainkan dari berbagai sektor masyarakat sipil yang selama ini cenderung apolitis atau bahkan mendukung agenda konservatif.
Fenomena ini menandai pergeseran signifikan dalam lanskap budaya Amerika kontemporer. Tokoh-tokoh berpengaruh dari dunia hiburan, teknologi, bisnis, dan olahraga—yang biasanya menghindari keterlibatan politik langsung—kini secara terbuka mengkritik pendekatan Immigration and Customs Enforcement (ICE) dan operasi patroli perbatasan. Kritik tersebut tidak lagi terbatas pada isu prosedural, melainkan menyentuh dimensi etis dan kemanusiaan yang lebih mendasar.
Pemicu terbaru adalah insiden tragis di Minneapolis, di mana seorang perawat berusia 37 tahun yang merupakan warga negara Amerika tewas ditembak dalam konfrontasi dengan agen federal. Kejadian ini menjadi yang kedua kalinya dalam waktu singkat seorang warga sipil AS menjadi korban operasi penegakan imigrasi di wilayah yang sama. Respons publik terhadap kasus tersebut menunjukkan pola yang semakin jelas: dari lagu protes yang dirilis musisi legendaris hingga pernyataan resmi dari pimpinan perusahaan teknologi raksasa, hingga dukungan terbuka dari atlet profesional papan atas.

Para pengamat politik mencatat bahwa resistensi ini berpotensi menggerus fondasi dukungan yang selama ini menjadi kekuatan utama administrasi. Meskipun basis inti pendukung tetap solid dalam mendukung deportasi massal dan penguatan kontrol perbatasan, survei terbaru menunjukkan penurunan tajam tingkat persetujuan terhadap penanganan imigrasi—bahkan di kalangan pemilih yang mengidentifikasi diri sebagai Republikan. Angka dukungan turun signifikan dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan keresahan yang melintasi garis partai.
Di sisi lain, beberapa suara dari dalam lingkaran konservatif justru mendorong pendekatan yang lebih keras, termasuk penargetan kelompok tertentu berdasarkan latar belakang agama atau etnis. Saran semacam itu semakin bertabrakan dengan narasi yang muncul dari kalangan berpengaruh di luar spektrum politik tradisional. Pembawa acara podcast populer yang sebelumnya mendukung kampanye kembali Trump kini mempertanyakan apakah metode penegakan hukum yang digunakan telah melampaui batas prinsip-prinsip demokrasi Amerika.

Situasi ini menggambarkan momen kritis di mana isu imigrasi tidak lagi dipandang semata-mata sebagai masalah keamanan nasional atau ekonomi, melainkan sebagai ujian terhadap nilai-nilai bersama seperti martabat manusia, hak asasi, dan rasa keadilan. Respons dari eksekutif perusahaan besar—termasuk yang berbasis di kawasan Midwest—menunjukkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap stabilitas sosial dan iklim bisnis di tengah meningkatnya protes dan ketegangan komunal.
Baca juga : Telaga Madirda: Permata Tersembunyi di Lereng Gunung Lawu yang Memikat dengan Legenda Pusaka Sakti
Pemerintahan tampaknya merespons dengan langkah penyesuaian taktis, termasuk pergantian pimpinan operasi di lapangan dan pernyataan yang lebih moderat dari presiden sendiri. Namun, para analis mempertanyakan apakah perubahan tersebut merupakan penyesuaian strategi substantif atau hanya upaya manajemen krisis sementara. Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, dinamika ini berpotensi menjadi faktor penentu dalam perebutan kendali legislatif.
Krisis di Minneapolis dan ekspansi operasi ke wilayah lain telah menjadikan penindakan imigrasi sebagai salah satu isu paling polarisasi di Amerika saat ini. Yang jelas, gelombang penolakan budaya yang sedang berlangsung bukan sekadar protes sesaat, melainkan sinyal bahwa konsensus nasional atas kebijakan imigrasi keras sedang retak—dan retakan itu semakin dalam.
Pewarta : Setiawan Wibisono

