RI News Portal. Kampala, Uganda – Barbra Itungo Kyagulanyi, istri pemimpin oposisi Uganda Robert Kyagulanyi Ssentamu alias Bobi Wine, menceritakan pengalaman mencekam ketika sekelompok pria bersenjata berpakaian militer mendobrak masuk ke rumah keluarganya pada Jumat malam lalu. Dari tempat tidur rumah sakit di Kampala, ia menggambarkan bagaimana dirinya dianiaya, diancam, dan dipaksa membuka ponselnya untuk mengetahui keberadaan suaminya yang kini bersembunyi.
Kyagulanyi menuturkan, puluhan pria tersebut memasuki rumah di kawasan Magere, Distrik Wakiso, tanpa surat perintah. Saat itu ia berada sendirian—anak-anak mereka tidak di rumah—dan hanya ditemani seorang penjaga di gerbang depan. Ia langsung merekam kejadian dengan ponselnya; rekaman itu kemudian beredar luas dan memicu kekecewaan serta kemarahan publik.
“Saya melihat gerombolan pria bersenjata itu datang. Saya langsung menelepon ipar saya dan berkata, ‘Ini akhirnya’,” ujar Kyagulanyi dengan suara bergetar. Ia menolak membuka kunci ponsel meski diancam. Seorang pria kemudian mengangkat tubuhnya dari lantai; saat ia melawan dengan menendang, pria lain memegangnya erat hingga merobek baju piyama atasannya.

Kekerasan berlanjut. Menurut kesaksiannya, seorang pria menarik rambutnya dan membenturkan kepalanya ke tiang. Empat orang lain memaksanya berbaring di lantai dan duduk di atas tubuhnya hingga ia kehilangan kesadaran. Ia baru sadar kembali di Rumah Sakit Nsambya sekitar pukul satu dini hari, dengan luka memar di berbagai bagian tubuh serta gangguan kecemasan berat.
Kyagulanyi secara tegas menuding Jenderal Muhoozi Kainerugaba—Kepala Angkatan Darat sejak 2024 sekaligus putra Presiden Yoweri Museveni—sebagai dalang di balik serangan tersebut. Tuduhan ini didasarkan pada serangkaian pernyataan dan ancaman terbuka yang dilontarkan Kainerugaba terhadap Bobi Wine melalui media sosial belakangan ini, termasuk julukan menghina dan pernyataan bahwa ribuan pendukung oposisi telah ditahan pasca-pemilu.
Bobi Wine sendiri masih berada di tempat persembunyian sejak hasil resmi pemilu presiden 15 Januari lalu diumumkan, yang memenangkan Museveni dengan 71,6 persen suara. Partai National Unity Platform (NUP) yang dipimpin Wine hanya memperoleh 24,7 persen, hasil yang ditolak keras oleh kubu oposisi sebagai rekayasa. Wine telah menyerukan aksi protes damai, namun ia menyatakan khawatir atas keselamatan diri dan keluarganya.
Baca juga : Senjata Rahasia “Discombobulator” Jadi Kunci Penangkapan Maduro, Trump Siap Serang Kartel hingga ke Meksiko
Sekretaris Jenderal NUP, David Lewis Rubongoya, menyebut insiden ini sebagai “fase baru penindasan sistematis” terhadap partai oposisi. “Pemimpin kami bersembunyi, beberapa pimpinan partai lain hilang atau ditahan,” katanya. Ia menambahkan bahwa serangan terhadap keluarga Wine menunjukkan pola intimidasi yang semakin terbuka.
Pihak militer hingga kini belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut. Sementara itu, pengacara internasional Bobi Wine, Robert Amsterdam, mendesak komunitas global untuk menuntut jaminan keselamatan yang konkret bagi Wine, dengan menyoroti ancaman langsung dari lingkaran kekuasaan.
Insiden ini terjadi di tengah suasana politik yang tegang pasca-pemilu yang diwarnai pemadaman internet berhari-hari, kegagalan alat identifikasi biometrik pemilih, serta tuduhan penggelembungan suara di daerah basis pendukung Museveni. Presiden berusia 81 tahun itu, yang akan memasuki periode ketujuh, kerap mendapat pujian dari pendukungnya atas stabilitas relatif yang berhasil dipertahankan di Uganda, negara yang menjadi tujuan pengungsi dari berbagai konflik di kawasan Afrika Timur.
Namun, bagi para kritikus, peristiwa kekerasan terhadap keluarga oposisi semakin mempertegas tuduhan bahwa aparatur negara digunakan untuk membungkam suara berbeda. Kasus ini kini menjadi sorotan internasional, dengan seruan agar supremasi hukum dan komitmen hak asasi manusia Uganda dihormati.
Pewarta : Vie

