RI News Portal. Nahariya, Israel — Pasukan Israel sedang melancarkan operasi pencarian berskala besar di sebuah pemakaman di utara Jalur Gaza untuk menemukan jenazah Sersan Ran Gvili, sandera terakhir yang diyakini masih berada di wilayah tersebut. Operasi ini menjadi titik krusial dalam proses gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, di mana kembalinya jenazah Gvili dipandang sebagai syarat utama untuk memasuki tahap kedua kesepakatan tersebut.
Menurut pernyataan resmi dari kantor Perdana Menteri Israel, setelah operasi selesai dan sesuai dengan komitmen yang telah disepakati dengan pihak Amerika Serikat, perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir akan dibuka kembali secara terbatas. Pembukaan ini diharapkan memungkinkan aliran bantuan kemanusiaan dan pergerakan orang yang lebih leluasa, meskipun detail waktu dan skala pembukaan belum diumumkan secara rinci. Pejabat militer Israel memperkirakan proses pencarian bisa berlangsung beberapa hari, dengan melibatkan tim forensik, ahli gigi, dan pakar agama untuk memastikan identifikasi yang akurat.
Pencarian kali ini mendapat perhatian lebih besar dibandingkan upaya sebelumnya, setelah muncul informasi intelijen baru yang mengarah ke area pemakaman dekat Garis Kuning—batas wilayah yang dikuasai pasukan Israel di utara Gaza. Beberapa sumber menyebut kemungkinan jenazah Gvili berada di kawasan Shejaiya-Tuffah di Kota Gaza. Operasi ini juga menandai upaya terakhir untuk menyelesaikan fase pertama gencatan senjata yang telah berlaku sejak Oktober lalu, di mana pengembalian semua sandera—baik hidup maupun meninggal—menjadi prioritas utama.

Keluarga Gvili terus mendesak pemerintah agar tidak melanjutkan ke tahap berikutnya sebelum jenazah anak mereka dikembalikan untuk dimakamkan secara layak. Di sisi lain, tekanan internasional semakin kuat, termasuk dari utusan tinggi Amerika Serikat yang telah menyatakan bahwa fase kedua kesepakatan sudah mulai berjalan.
Sementara itu, Hamas menegaskan telah menyampaikan seluruh informasi yang dimilikinya mengenai lokasi jenazah Gvili kepada mediator, dan menuding pihak Israel justru menghambat akses pencarian di wilayah yang berada di bawah kendali militernya.
Di tengah dinamika ini, insiden serius terjadi di Yerusalem Timur: markas besar badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) yang telah ditutup dan sebagian dirubuhkan, kini dilaporkan terbakar pada malam hari. Kejadian ini menyusul pembongkaran sebagian kompleks oleh otoritas Israel beberapa hari sebelumnya. Pemukim Israel dilaporkan terlihat merusak pagar dan mengambil barang dari gedung utama sebelum api berkobar.
Baca juga : Teguran Pertamina Tak Jera, Dugaan Penimbunan Solar Kembali Tercium di SPBU Tengaran
Komisaris Jenderal UNRWA menyebut peristiwa ini sebagai serangan terbaru terhadap PBB dalam upaya sistematis untuk melemahkan status pengungsi Palestina. Badan tersebut tetap menjadi penyedia utama bantuan bagi jutaan pengungsi di Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, serta di negara tetangga seperti Yordania, Lebanon, dan Suriah—meskipun operasinya dibatasi ketat akibat legislasi Israel yang memutus hubungan dengan lembaga ini di wilayah yang diklaimnya.
Israel selama ini menuduh UNRWA telah disusupi elemen Hamas dan sebagian stafnya terlibat dalam peristiwa yang memicu konflik berkepanjangan sejak 2023. Pimpinan UNRWA membantah tuduhan tersebut dan menyatakan telah mengambil tindakan tegas terhadap individu yang terlibat.
Situasi di Gaza dan Yerusalem Timur ini mencerminkan betapa rapuhnya kemajuan gencatan senjata, di mana isu sandera, akses kemanusiaan, dan status lembaga internasional terus menjadi sumber ketegangan mendalam di tengah upaya mencapai perdamaian yang lebih permanen.
Pewarta : Setiawan Wbisono

