RI News Portal. Medan – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengumumkan keyakinan kuat bahwa pasokan dan harga bahan pokok akan tetap terkendali menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah hingga perayaan Idul Fitri mendatang. Langkah antisipatif ini didasarkan pada posisi surplus produksi pangan yang dicapai wilayah tersebut sepanjang tahun sebelumnya, ditambah serangkaian program intervensi terstruktur.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara, Timur Tumanggor, menyatakan bahwa kondisi stok pangan saat ini berada pada level berlebih, sehingga masyarakat dapat menjalani ibadah puasa tanpa kekhawatiran akan lonjakan harga kebutuhan sehari-hari. Pernyataan tersebut disampaikan di Medan pada hari Kamis.
Menurut data produksi tahun lalu, Sumatera Utara berhasil menghasilkan lebih dari 2,22 juta ton beras, sementara kebutuhan konsumsi tahunan penduduk provinsi ini hanya sekitar 1,7 juta ton. Hal ini menghasilkan surplus sekitar 520 ribu ton, yang tidak hanya mencukupi kebutuhan internal, tetapi juga menjadikan daerah ini sebagai salah satu pemasok utama beras ke provinsi-provinsi tetangga.

Surplus tidak terbatas pada komoditas beras. Beberapa hasil pertanian strategis lainnya juga mencatat kelebihan produksi signifikan, termasuk cabai merah mencapai 134 ribu ton, jagung 135 ribu ton, serta cabai rawit sekitar 65 ribu ton. Angka-angka ini memperkuat ketahanan pangan regional di tengah dinamika pasar nasional.
Meski demikian, Timur Tumanggor mengakui adanya tantangan khusus pada komoditas cabai merah. Fluktuasi harga sering terjadi karena sebagian produksi dialihkan ke pasar luar provinsi yang menawarkan nilai jual lebih tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah provinsi menerapkan intervensi langsung pada saat panen raya guna mempertahankan stok lokal dan menekan volatilitas harga di tingkat konsumen.
Upaya penguatan produksi dilakukan melalui pengembangan kawasan pertanian unggulan di sejumlah wilayah. Untuk tanaman padi, fokus diberikan pada lima kabupaten/kota utama, termasuk Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Asahan. Sementara itu, kawasan unggulan cabai merah dikembangkan di dua kabupaten, yaitu Karo dan Batu Bara. Intervensi mencakup penyediaan alat serta mesin pertanian (alsintan), pupuk bersubsidi, dan bibit berkualitas tinggi, dengan tujuan mempertahankan tingkat produksi yang surplus secara berkelanjutan.
Selain strategi pengembangan kawasan, pemulihan lahan pascabencana menjadi prioritas penting. Akhir November 2025, bencana hidrometeorologi melanda sejumlah daerah di Sumatera Utara, menyebabkan kerusakan pada total 31.123 hektare lahan pertanian. Rinciannya meliputi kerusakan ringan sekitar 22 ribu hektare, kerusakan sedang 4.500 hektare, dan kerusakan berat 4.560 hektare.
Salah satu respons cepat dilakukan di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, di mana 94 hektare lahan terdampak langsung mendapat bantuan penanaman ulang disertai penyediaan bibit dari pemerintah provinsi. Langkah rehabilitasi ini diharapkan dapat meminimalkan dampak jangka panjang terhadap produksi pangan dan menjaga stabilitas pasokan menjelang periode Ramadan.
Dengan kombinasi surplus produksi, intervensi terarah, dan pemulihan pascabencana, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menegaskan komitmennya untuk menjaga keterjangkauan bahan pokok bagi masyarakat, khususnya pada momen meningkatnya kebutuhan konsumsi rumah tangga.
Pewarta : Adi Tanjoeng


Semoga di lebaran yang akan datang kita bisa menyambutkan dengan bahagia …..
Selamat siang, jum’at berkah, semoga hari baik buat kita semua, salam aktivitas