RI News Portal. Davos, Switzerland — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak membatalkan ancaman tarif terhadap delapan negara Eropa pada Rabu, setelah sebelumnya menggunakan tekanan ekonomi untuk mendesak penguasaan atas Greenland. Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam pendekatan AS terhadap isu keamanan Arktik, yang selama beberapa pekan memicu kekhawatiran akan retaknya solidaritas aliansi transatlantik.
Keputusan tersebut diumumkan Trump melalui pernyataan resmi, di mana ia menyatakan telah mencapai kesepakatan awal dengan pimpinan NATO mengenai kerangka kerja keamanan Arktik masa depan. Fokus diskusi lanjutan, menurut sumber diplomatik Eropa, mencakup penguatan program pertahanan rudal canggih Golden Dome—sebuah inisiatif bernilai ratusan miliar dolar yang melibatkan penempatan aset militer AS di luar angkasa untuk pertama kalinya.
Analis geopolitik menilai pembalikan ini sebagai taktik negosiasi khas Trump: memanfaatkan ancaman ekstrem untuk memaksa konsesi, tanpa harus menjalankan ancaman tersebut. Berbeda dengan pendekatan konvensional diplomasi multilateral, strategi ini mencerminkan prioritas keamanan nasional AS yang semakin berorientasi pada persaingan kekuatan besar dengan Rusia dan China di wilayah kutub utara. Greenland, dengan posisi strategisnya dan sumber daya mineral langka, dipandang Washington sebagai aset kunci untuk mengamankan rute pelayaran baru yang terbuka akibat pemanasan global.

Reaksi dari Denmark dan sekutu NATO lainnya menunjukkan keseimbangan antara kelegaan dan kewaspadaan. Pemerintah Denmark menyambut baik penghentian eskalasi, sambil menegaskan bahwa kedaulatan atas Greenland tetap menjadi prinsip tidak boleh diganggu gugat. Sementara itu, diskusi internal aliansi mengarah pada kemungkinan perluasan kehadiran militer AS di pulau tersebut melalui kerjasama sukarela, sebagai bentuk kompromi yang menghindari konfrontasi langsung.
Dari perspektif akademis, episode ini menggarisbawahi kerapuhan institusi multilateral di era polarisasi geopolitik. NATO, yang selama tujuh dekade menjadi pilar stabilitas pasca-Perang Dunia II, kembali diuji oleh dinamika internal yang dipicu oleh perbedaan persepsi beban keamanan. Trump kerap menyuarakan ketidakpuasan atas kontribusi anggota Eropa, yang ia anggap tidak sebanding dengan perlindungan AS. Namun, jaminan solidaritas dari Sekjen NATO dalam forum publik tampaknya menjadi faktor penentu yang mendorong de-eskalasi.
Baca juga : Mobil Grand Max Terguling di Selogiri akibat Pecah Ban: Tidak Ada Korban, Kerugian Minim
Di sisi lain, masyarakat Greenland sendiri merespons ancaman tersebut dengan kesiapsiagaan praktis. Pemerintah lokal menerbitkan panduan darurat bagi warga, mendorong stok kebutuhan dasar untuk menghadapi potensi gangguan ekonomi. Respons ini mencerminkan kesadaran kolektif akan kerentanan wilayah semi-otonom tersebut dalam permainan kekuatan global, sekaligus menegaskan identitas nasional yang semakin kuat di tengah tekanan eksternal.
Pembatalan tarif ini juga berdampak positif pada pasar keuangan global, yang sebelumnya terguncang oleh prospek perang dagang baru. Namun, para pengamat memperingatkan bahwa isu Greenland belum sepenuhnya terselesaikan. Kompromi saat ini mungkin hanya tahap sementara dalam persaingan jangka panjang atas Arktik, wilayah yang semakin strategis seiring perubahan iklim dan ekspansi pengaruh Rusia serta China.
Ke depan, perkembangan ini akan menjadi bahan studi penting bagi ilmu hubungan internasional, khususnya dalam memahami bagaimana taktik negosiasi berbasis ancaman dapat membentuk ulang aliansi tradisional tanpa memicu konflik terbuka.
Pewarta : Setiawan Wibisono

