RI News Portal. Tegal, 22 Januari 2026 – Kerusakan parah pada jalan alternatif yang menjadi penghubung utama antara Desa Danasari dan wilayah Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, telah mencapai titik kritis. Amblasnya badan jalan yang semakin melebar dan mendalam kini tidak hanya mengganggu mobilitas sehari-hari, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa warga. Fenomena ini, yang dipicu oleh curah hujan ekstrem, menyoroti kerentanan infrastruktur pedesaan terhadap perubahan iklim dan kurangnya pemeliharaan preventif, sebuah isu yang semakin relevan dalam konteks pembangunan regional di Jawa Tengah.
Peninjauan langsung oleh Camat Bojong, Mochamad Dhomiri, pada Rabu (21/1/2026) menjadi respons awal pemerintah setempat terhadap eskalasi kerusakan. Dhomiri, yang didampingi tim kecamatan, memeriksa lokasi untuk menilai tingkat bahaya dan merancang strategi mitigasi sementara. Dalam perspektif akademis, insiden ini dapat dilihat sebagai contoh klasik dari degradasi infrastruktur akibat saturasi tanah, di mana hujan deras selama 19-21 Januari 2026 menyebabkan hilangnya daya dukung fondasi jalan. Retakan lebar dan penurunan permukaan hingga lebih dari satu meter mencerminkan proses erosi sub-surface yang dipercepat oleh faktor hidrologis, sebuah pola yang sering diamati dalam studi geoteknik di wilayah berbukit seperti Tegal.

“Kami harus bertindak cepat untuk menghindari korban jiwa. Hasil peninjauan ini akan menjadi basis laporan ke bupati, dengan fokus pada penanganan darurat yang holistik,” ujar Dhomiri. Ia menekankan bahwa larangan sementara bagi kendaraan roda empat atau lebih adalah langkah preventif utama, sementara pengendara roda dua diimbau untuk ekstra hati-hati menghadapi permukaan licin dan retak. Selain itu, pemasangan rambu peringatan dan pengalihan arus lalu lintas dari Desa Batunyana ke Gunungjati direncanakan segera, sebagai upaya mengurangi beban struktural pada jalan yang rusak.
Dari sudut pandang sosio-ekonomi, dampaknya terasa langsung pada komunitas lokal. Jalur ini bukan sekadar penghubung fisik, melainkan arteri vital untuk distribusi barang, akses pendidikan, dan layanan sosial. Ruslan, seorang pengemudi angkutan lokal, mengungkapkan kekhawatirannya: “Rute ini satu-satunya yang efisien untuk muatan saya. Sekarang harus memutar jauh, waktu dan biaya melonjak, sementara pendapatan tetap.” Kisah seperti ini mengilustrasikan bagaimana kerusakan infrastruktur dapat memperburuk ketimpangan ekonomi di daerah pedesaan, di mana ketergantungan pada transportasi darat masih dominan.
Baca juga : Pahlawan di Arus Deras: Dedikasi Unit Penyelamat Bali dalam Misi Menemukan Ibu-Anak Korban Banjir
Koordinasi antarinstansi telah digalang, dengan Dhomiri menghubungi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal. “Kami harap penanganan darurat bisa segera terealisasi, agar roda ekonomi tidak mandek,” tambahnya. Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa insiden ini bukan kasus isolasi; data historis dari wilayah serupa menunjukkan peningkatan frekuensi amblas jalan seiring dengan intensitas hujan yang diprediksi meningkat akibat variabilitas iklim. Hal ini menuntut pendekatan jangka panjang, seperti penguatan drainase dan penggunaan material tahan air dalam rekonstruksi jalan.
Warga Danasari dan Bojong kini menanti aksi konkret dari pemerintah daerah, dengan harapan perbaikan sementara dapat mencegah longsor susulan di tengah prakiraan cuaca yang masih berpotensi basah. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi pembuat kebijakan untuk mengintegrasikan resiliensi lingkungan dalam perencanaan infrastruktur, demi menjaga keberlanjutan komunitas pedesaan di era perubahan global.
Pewarta : Ikhwanudin

