RI News Portal. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat – Di tengah hamparan pekarangan Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, sebuah kejadian luar biasa sedang menjadi perbincangan hangat masyarakat setempat. Bunga Rafflesia—salah satu spesies parasit paling ikonik dan langka di dunia—tumbuh dan mekar dengan subur tepat di belakang sebuah rumah warga di Jorong Tigo Balai, Kenagarian Lubuak Batingkok.
Bunga tersebut ditemukan tumbuh di pekarangan milik almarhum Endang, yang kini ditempati oleh Aldo. Menurut penuturan Ice, salah seorang warga sekitar, kemunculan tunas bunga ini telah terlihat sejak sekitar seminggu lalu. Tak butuh waktu lama, aroma khas amis yang kuat segera menarik perhatian tetangga-tetangga kampung. Banyak warga berbondong-bondong datang untuk menyaksikan langsung keajaiban alam ini, menjadikannya tontonan menarik sekaligus momen bersejarah bagi komunitas lokal.
Keberadaan Rafflesia di pekarangan rumah bukan sekadar kejutan biasa. Tanaman ini merupakan endemik Pulau Sumatera dan termasuk dalam daftar spesies yang dilindungi ketat berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Rafflesia tidak memiliki daun, batang, maupun akar sendiri; ia hidup sebagai parasit obligat pada tanaman merambat genus Tetrastigma (anggota famili Vitaceae). Siklus hidupnya bergantung sepenuhnya pada inang tersebut, di mana benih Rafflesia berkecambah di akar inang, kemudian berkembang menjadi bunga tunggal yang mekar hanya selama 3–4 hari sebelum layu.

Rafflesia arnoldii (spesies paling terkenal) dikenal sebagai bunga tunggal terbesar di dunia, dengan diameter bisa mencapai lebih dari satu meter dan berat hingga 11 kilogram. Mekarnya ditandai oleh lima kelopak tebal berwarna merah bata berbintik putih, disertai bau busuk seperti daging membusuk—adaptasi evolusi untuk menarik lalat dan kumbang sebagai penyerbuk. Proses ini menjadikan Rafflesia sebagai contoh sempurna strategi parasit ekstrem di kerajaan tumbuhan, di mana ia mengorbankan fotosintesis demi mengambil nutrisi langsung dari inangnya.
Kemunculan Rafflesia di lokasi non-hutan primer seperti pekarangan menunjukkan potensi adaptasi yang menarik, sekaligus menggarisbawahi pentingnya menjaga vegetasi sekitar yang mendukung inang Tetrastigma. Ice salah satu tetangga Aldo menyebutkan bahwa kabar beredar, dari dinas provinsi berencana datang untuk meninjau langsung. Meski belum ada konfirmasi resmi mengenai instansi mana yang dimaksud, hal ini mencerminkan perhatian serius terhadap temuan langka semacam ini.
Baca juga : Bukittinggi Kembalikan Sekolah Enam Hari: Evaluasi 2025 Dorong Maksimalisasi Waktu Belajar Siswa SD-SMP
Bagi pemilik lahan maupun masyarakat sekitar, penemuan ini adalah keberuntungan sekaligus tanggung jawab besar. Berikut panduan praktis yang disarankan para ahli konservasi untuk menangani kehadiran Rafflesia di pekarangan:
- Jangan menyentuh, memetik, atau menginjak bunga maupun bagian inangnya (Tetrastigma), karena sentuhan fisik dapat mempercepat pembusukan atau mengganggu siklus mekar alami.
- Segera buat pagar sederhana dari kayu, bambu, atau tali di sekitar area tumbuh untuk melindungi dari langkah kaki manusia, hewan peliharaan, atau gangguan lain.
- Laporkan secepatnya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah setempat atau dinas lingkungan hidup terdekat. Pelaporan ini krusial untuk pendataan, pemantauan, dan upaya pelestarian populasi Rafflesia yang terus menurun akibat deforestasi dan perubahan habitat.
- Pertahankan kebersihan lingkungan sekitar dengan menghindari pembuangan sampah, limbah rumah tangga, atau penggunaan bahan kimia yang dapat merusak ekosistem inang.
- Manfaatkan momen singkat mekar (hanya beberapa hari) untuk tujuan edukasi: ambil dokumentasi foto atau video dari jarak aman, lalu sebarkan pengetahuan tentang pentingnya konservasi flora langka ini kepada keluarga, tetangga, dan komunitas.

Kehadiran Rafflesia di Jorong Tigo Balai bukan hanya spectacle alam yang memukau, melainkan pengingat betapa rapuhnya keseimbangan ekosistem di Sumatera Barat. Di tengah sorotan warga dan potensi kunjungan tim ahli, semoga temuan ini mendorong kesadaran kolektif untuk melindungi keanekaragaman hayati yang menjadi kebanggaan Ranah Minang.
Pewarta : Jum Aini

