RI News Portal. Jayapura – Di tengah tantangan geografis dan sosial yang kompleks, Pemerintah Provinsi Papua telah mengumumkan rencana ambisius untuk membangun sekitar 14.882 unit rumah layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah, dengan pelaksanaan bertahap dimulai pada tahun 2026. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan dasar hunian, tetapi juga menjadi katalisator penataan kawasan permukiman yang lebih terencana, sehat, dan inklusif. Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menekankan bahwa program ini merupakan bagian integral dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya di wilayah yang selama ini menghadapi backlog perumahan signifikan.
Program ini muncul sebagai respons terhadap masalah perumahan kronis di Papua, di mana tingkat kemiskinan mencapai lebih dari 27 persen, jauh di atas rata-rata nasional, dan akses terhadap hunian layak masih menjadi isu utama. Menurut data resmi, ribuan rumah tangga di provinsi ini hidup dalam kondisi tidak layak, dengan infrastruktur pendukung seperti sanitasi dan akses air bersih yang terbatas. Kompleksitas ini diperburuk oleh topografi pegunungan yang ekstrem, keterisolasian wilayah, serta isu keamanan yang sering menghambat proyek pembangunan. Selain itu, ketidakmerataan ekonomi—di mana kekayaan sumber daya alam belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh penduduk lokal—menjadi pendorong utama inisiatif ini, sejalan dengan kebijakan nasional untuk mengurangi disparitas regional.

Fokus awal pembangunan ditetapkan di kawasan pesisir perkotaan, termasuk sekitar Pulau Kosong dan wilayah Jayapura, sebagai lokasi percontohan. Pendekatan ini dipilih karena aksesibilitas yang lebih baik, memungkinkan evaluasi cepat sebelum ekspansi ke daerah pedalaman. “Kami memulai dari wilayah yang mudah dijangkau untuk membangun model yang bisa direplikasi, dengan mengutamakan kearifan lokal agar program ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat,” ujar Gubernur Fakhiri dalam pernyataannya di Jayapura. Alokasi unit rumah akan dibagi secara proporsional antar kabupaten dan kota, berdasarkan pemetaan kebutuhan riil yang dilakukan melalui koordinasi intensif dengan pemerintah daerah setempat.
Secara akademis, program ini dapat dilihat sebagai aplikasi dari pendekatan pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Di Papua, di mana konflik sosial dan isu keamanan sering menjadi penghalang, inisiatif semacam ini berpotensi membangun kepercayaan masyarakat melalui pemberdayaan lokal. Misalnya, dengan melibatkan penduduk asli dalam proses konstruksi, program bisa mendorong transfer keterampilan dan penciptaan lapangan kerja, sekaligus mengurangi ketergantungan pada tenaga luar. Namun, tantangan tetap ada: biaya logistik yang tinggi akibat medan sulit, serta kebutuhan sinkronisasi dengan program pusat seperti Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), yang telah menyalurkan miliaran rupiah untuk rehabilitasi rumah di wilayah ini.
Baca juga : Integrasi Wakanda dan Fantastic Four dalam Trailer Terbaru Avengers: Doomsday
Gubernur Fakhiri juga menyoroti pentingnya dukungan dari kementerian terkait untuk memastikan keberlanjutan. “Kami mengharapkan kolaborasi yang kuat agar program ini tidak hanya membangun rumah, tapi juga menciptakan komunitas yang lebih sejahtera dan tertib,” tambahnya. Pendekatan bertahap ini memungkinkan adaptasi terhadap feedback masyarakat, memastikan bahwa desain rumah menghormati budaya lokal, seperti penggunaan material ramah lingkungan yang tahan terhadap iklim tropis Papua.
Dalam konteks lebih luas, inisiatif ini selaras dengan target nasional Program 3 Juta Rumah, yang mengalokasikan triliunan rupiah untuk mengatasi defisit hunian di seluruh Indonesia. Bagi Papua, keberhasilan program ini bisa menjadi model bagi provinsi lain dengan tantangan serupa, seperti Papua Pegunungan, di mana pembangunan rumah diharapkan memberdayakan penduduk lokal dan meningkatkan kesejahteraan secara holistik.
Pada akhirnya, pembangunan 14.882 unit rumah ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang dalam modal manusia Papua. Dengan penekanan pada inklusivitas dan adaptasi lokal, program ini berpotensi mengubah lanskap permukiman, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat kohesi sosial di salah satu wilayah paling dinamis di Indonesia.
Pewarta : Anjar Bramantyo

