RI News Portal. Klaten, 12 Januari 2026 – Museum Daerah Kabupaten Klaten yang terletak di Kompleks Monumen Juang 45, Kecamatan Klaten Utara, semakin menegaskan posisinya sebagai pusat pembelajaran sejarah yang relevan bagi generasi muda. Sepanjang 2025, museum yang berada di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Klaten ini mencatat total 4.221 kunjungan, dengan mayoritas berasal dari kalangan pelajar.
Data kunjungan menunjukkan bahwa 2.950 di antaranya adalah pelajar dari berbagai jenjang, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas dan kejuruan. Sisanya terdiri atas 107 mahasiswa, 1.113 pengunjung umum, 43 peneliti, serta delapan wisatawan asing. Pola ini mencerminkan fungsi museum yang semakin kuat sebagai sarana edukasi informal yang melengkapi kurikulum formal di sekolah-sekolah.
Wiyan Ari Tanjung, koordinator Kelompok Kerja Sejarah, Cagar Budaya, dan Permuseuman Disbudporapar Klaten, menilai tingginya partisipasi pelajar sebagai tanda bahwa museum mulai diterima sebagai alternatif pembelajaran sejarah yang hidup dan kontekstual. “Banyak sekolah memilih museum ini untuk kegiatan outing class karena koleksinya langsung terkait dengan sejarah lokal Klaten. Informasi tentang keberadaan museum masih banyak menyebar melalui rekomendasi antarpendidik dan siswa, sehingga menciptakan efek getok tular yang positif,” ungkapnya pada Senin (12/1/2026).

Museum saat ini menyimpan 142 koleksi tetap yang mencakup beragam kategori, antara lain arkeologi, historika, teknologika, keramologika, seni rupa, dan etnografika. Koleksi-koleksi tersebut menggambarkan lintasan sejarah Klaten dari masa prasejarah hingga periode modern. Di antara yang paling menonjol adalah replika harta karun emas Wonoboyo serta sejumlah arca logam dari situs Jogonalan yang menjadi representasi kekayaan budaya masa klasik di wilayah ini.
Pengelola juga berhasil mengamankan 21 objek diduga cagar budaya (ODCB) berupa fragmen struktur batuan candi dari Desa Dompyongan (Kecamatan Jogonalan) dan Desa Jagalan (Kecamatan Karangnongko). Beberapa di antaranya, seperti elemen makara, kini dipamerkan di area pintu masuk sebagai pengantar visual bagi pengunjung.
Ke depan, pengelola berencana meningkatkan dimensi interaktif museum melalui pembangunan studio audio-visual di salah satu ruangan samping. Fasilitas ini diharapkan menjadi media penyampaian narasi sejarah Klaten yang lebih imersif, khususnya bagi pelajar yang cenderung responsif terhadap pendekatan multimedia. “Kami ingin pengalaman belajar di museum tidak lagi bersifat pasif, melainkan mampu memicu diskusi dan pemahaman yang lebih mendalam,” tambah Tanjung.
Museum Daerah Kabupaten Klaten tetap membuka akses secara gratis bagi semua pengunjung. Jam operasional berlangsung dari Selasa hingga Minggu pukul 08.30–15.00 WIB. Pada hari Jumat, museum melayani kunjungan pada pukul 08.30–11.00 WIB dan dilanjutkan pukul 13.00–15.00 WIB untuk mengakomodasi waktu salat.
Peningkatan kunjungan yang signifikan ini menandai langkah penting dalam pelestarian dan pendayagunaan warisan budaya lokal, sekaligus memperkuat peran museum sebagai jembatan antara masa lalu dan pendidikan generasi masa kini di Kabupaten Klaten.
Pewarta : Rendro P

