RI News Portal. Purbalingga – Sebuah insiden kecelakaan lalu lintas menimpa rombongan relawan asal Kota Magelang di Jalan Serayu Larangan, Kabupaten Purbalingga, pada Kamis sore (8/1). Peristiwa ini memicu diskusi mengenai protokol keselamatan pasca-operasi bagi para aktivis kemanusiaan yang baru saja menyelesaikan tugas berat di lapangan.
Kendaraan operasional jenis minibus dengan nomor polisi AA 8035 XA yang membawa personel relawan dilaporkan mengalami kegagalan fungsi pengereman (brake failure). Akibatnya, kendaraan kehilangan stabilitas saat melintasi medan jalan setempat, menghantam pembatas, dan berakhir dalam posisi terguling.
Insiden ini terjadi tepat saat rombongan baru saja menarik diri dari operasi pencarian Syafiq Ridhan Ali Razan. Sebagaimana diketahui, Syafiq merupakan pendaki yang dinyatakan hilang di Gunung Slamet sejak akhir Desember 2025. Hingga memasuki hari ke-10, pencarian yang melibatkan 21 tim gabungan tersebut belum membuahkan hasil signifikan, sehingga dilakukan rotasi dan pemulangan sebagian personel.

Secara akademis, fase pemulangan atau demobilisasi dalam manajemen bencana seringkali menjadi titik kritis. Kelelahan fisik dan beban psikis setelah berhari-hari melakukan penyisiran di medan ekstrem Gunung Slamet diduga menjadi faktor non-teknis yang menyertai kondisi teknis kendaraan.
Meski kendaraan mengalami kerusakan cukup parah, koordinasi cepat antara petugas kepolisian dan warga lokal memastikan proses evakuasi berjalan lancar tanpa mengganggu arus lalu lintas secara permanen. Laporan medis sementara mengonfirmasi kabar baik: tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Seluruh penumpang dinyatakan selamat, walaupun beberapa personel mengalami trauma ringan dan syok pasca-benturan.
Baca juga : Memperkuat Ketahanan Sosial: Pendekatan Persuasif Babinsa dalam Menjaga Stabilitas Keamanan di Sidoharjo
Pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk membedah penyebab pasti kegagalan mekanis pada sistem pengereman minibus tersebut. Secara sosiologis, peristiwa ini menjadi pengingat bagi organisasi kemanusiaan bahwa kesiapan armada pendukung harus setara dengan kesiapan personel di medan tempur.
Pengawasan terhadap kelaikan kendaraan yang melintasi jalur pegunungan di wilayah Jawa Tengah menjadi variabel krusial yang tidak boleh terabaikan dalam standar operasional prosedur (SOP) setiap lembaga penyedia layanan darurat.
Pewarta: Ikhwanudin

