RI News Portal. Dubai, United Arab Emirates 8 Januari 2026 – Kepala Staf Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, pada Rabu menyampaikan peringatan tegas mengenai kemungkinan tindakan militer preventif sebagai respons terhadap apa yang disebutnya sebagai “retorika intensif” yang mengancam Republik Islam. Pernyataan ini disampaikan dalam pidato di hadapan para kadet akademi militer, di tengah situasi domestik yang semakin tegang akibat gelombang protes nasional yang dipicu oleh krisis ekonomi mendalam.
Hatami, yang merupakan perwira militer reguler pertama dalam beberapa dekade yang memimpin Artesh (angkatan darat konvensional Iran) setelah serangkaian komandan senior tewas dalam konflik 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, menekankan bahwa angkatan bersenjata Iran kini berada pada tingkat kesiapan yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang tersebut. “Jika musuh melakukan kesalahan, mereka akan menghadapi respons yang lebih tegas, dan kami akan memotong tangan setiap agresor,” ujarnya, sebagaimana dikutip oleh agen berita resmi negara.

Peringatan ini tampaknya merujuk pada serangkaian pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang baru-baru ini mengancam akan memberikan bantuan kepada demonstran damai jika pemerintah Iran melakukan kekerasan terhadap mereka. Ancaman Trump tersebut mendapat bobot tambahan menyusul operasi militer AS yang berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro – sekutu lama Teheran – pada akhir pekan lalu, dalam sebuah serangan mendadak yang mengejutkan komunitas internasional.
Sementara itu, protes yang telah berlangsung lebih dari sepuluh hari sejak 28 Desember 2025 terus meluas, mencakup lebih dari 310 lokasi di 28 dari 31 provinsi Iran. Demonstrasi yang awalnya dipicu oleh runtuhnya nilai rial – yang kini diperdagangkan di atas 1,4 juta per dolar AS – dan penghapusan kurs tukar preferensial untuk impor, kini telah berkembang menjadi tantangan langsung terhadap otoritas teokrasi. Video-verifikasi dari media sosial menunjukkan aksi di kota-kota besar seperti Bojnourd, Kerman, Rasht, Shiraz, dan Tabriz, serta sejumlah kota kecil lainnya.
Baca juga : Penyelidikan Polisi atas Dugaan Teror terhadap Influencer DJ Donny Masih Berlangsung Intensif
Untuk meredam kemarahan publik, pemerintah Iran pada Rabu mulai mendistribusikan subsidi bulanan baru senilai 10 juta rial (setara sekitar $7) kepada lebih dari 71 juta warga, yang ditransfer langsung ke rekening kepala keluarga. Langkah ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan subsidi sebelumnya sebesar 4,5 juta rial. Namun, para pedagang memperingatkan bahwa harga barang pokok seperti minyak goreng, unggas, dan keju telah melonjak tajam, yang berpotensi memperburuk ketidakpuasan masyarakat di tengah sanksi internasional yang berkelanjutan dan inflasi tinggi.
Wakil Presiden Iran bidang urusan eksekutif, Mohammad Jafar Ghaempanah, menggambarkan situasi saat ini sebagai “perang ekonomi total” dan menyerukan “operasi bedah ekonomi” untuk memberantas kebijakan rent-seeking serta korupsi internal. Analis dari lembaga pemikir independen menilai bahwa protes ini tidak hanya mencerminkan kemerosotan ekonomi pasca-perang dengan Israel dan sanksi yang diperketat, tetapi juga akumulasi ketidakpuasan jangka panjang terhadap represi pemerintah dan isolasi global Iran.

Laporan dari kelompok hak asasi manusia yang berbasis di luar negeri menyebutkan sedikitnya 36 korban jiwa selama demonstrasi, termasuk 30 demonstran, empat anak-anak, dan dua anggota pasukan keamanan, dengan lebih dari 2.100 penangkapan. Meskipun belum ada indikasi publik mengenai persiapan serangan militer Iran di kawasan, eskalasi retorika ini menambah lapisan kompleksitas pada dinamika regional yang sudah rapuh, di mana Iran menghadapi ancaman ganda dari Barat dan sekutunya di Timur Tengah.
Situasi ini menggarisbawahi kerentanan struktural Republik Islam pada awal 2026, di mana intervensi eksternal potensial berinteraksi dengan tekanan internal yang semakin sulit dikendalikan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

