RI News Portal. Jakarta, 5 Januari 2026 – Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 kembali mencatatkan surplus sebesar 2,66 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini diperoleh dari nilai ekspor nasional yang mencapai 22,52 miliar dolar AS dan impor sebesar 19,86 miliar dolar AS. Surplus ini melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, mencerminkan ketahanan sektor eksternal ekonomi Indonesia meskipun menghadapi tekanan dari dinamika perdagangan global.
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Senin (5/1/2026), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa kinerja ekspor pada November 2025 mengalami kontraksi sebesar 6,60 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh sektor nonmigas, yang menyumbang sebagian besar ekspor nasional, dengan komoditas utama seperti lemak dan minyak hewani/nabati, besi dan baja, serta bahan bakar mineral mengalami penurunan signifikan. Faktor eksternal, seperti perlambatan permintaan dari mitra dagang utama dan fluktuasi harga komoditas global, diduga menjadi pendorong utama kontraksi tersebut.

Sebaliknya, impor menunjukkan resiliensi dengan kenaikan tipis sebesar 0,46 persen yoy. Peningkatan ini terutama didorong oleh impor barang modal dan bahan baku penolong, yang mencerminkan upaya pemulihan aktivitas industri domestik. Sektor migas masih menjadi beban dengan defisit sekitar 1,98 miliar dolar AS, terutama akibat ketergantungan pada impor minyak mentah dan hasil olahannya. Namun, surplus nonmigas yang mencapai 4,64 miliar dolar AS berhasil mengimbangi defisit tersebut, dengan kontribusi utama dari komoditas seperti lemak dan minyak hewani/nabati, besi dan baja, serta nikel.
Secara kumulatif, dari Januari hingga November 2025, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus sebesar 38,54 miliar dolar AS, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus ini didorong oleh kinerja nonmigas yang kuat, sementara defisit migas tetap menjadi tantangan struktural. Dari perspektif mitra dagang, surplus terbesar dicatat dengan Amerika Serikat, India, dan Filipina, sementara defisit terdalam terjadi dengan Tiongkok, Australia, dan Singapura.
Dari sudut pandang akademis, surplus berkelanjutan ini menandakan bahwa strategi diversifikasi ekspor dan hilirisasi sumber daya alam telah memberikan dampak positif terhadap ketahanan eksternal. Namun, penurunan ekspor tahunan mengindikasikan vulnerabilitas terhadap risiko global, seperti eskalasi ketegangan perdagangan dan volatilitas harga komoditas. Untuk mempertahankan momentum ini, diperlukan kebijakan yang lebih adaptif, termasuk penguatan rantai pasok domestik dan ekspansi pasar nontradisional, guna mengurangi ketergantungan pada mitra dagang konvensional.
Kinerja neraca perdagangan ini tidak hanya menjadi indikator kesehatan ekonomi makro, tetapi juga fondasi bagi stabilitas nilai tukar dan cadangan devisa, yang krusial dalam menghadapi ketidakpastian global pada tahun mendatang.
Pewarta : Setiawan Wibisono

