RI News Portal. Jember, 30 Desember 2025 – Sebuah peristiwa tragis kembali menimpa masyarakat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, ketika pesta minuman keras pada akhir pekan lalu berujung pada kematian empat orang dari delapan peserta. Kasus ini menyoroti risiko serius konsumsi minuman beralkohol tidak terkontrol, terutama jenis arak tradisional yang sering kali beredar tanpa pengawasan ketat.
Menurut keterangan resmi dari pihak berwenang, kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 27 Desember 2025, di sebuah lokasi di Kecamatan Patrang. Para korban mulai menunjukkan gejala keracunan berat setelah mengonsumsi arak, dengan dua orang meninggal dunia pada Minggu malam dan dua lainnya pada Senin pagi. Empat peserta lainnya saat ini masih menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan setempat.
Penyelidikan awal mengindikasikan bahwa minuman yang dikonsumsi adalah arak, yang diketahui rentan mengandung zat berbahaya jika proses produksinya tidak standar, seperti metanol berlebih yang dapat menyebabkan keracunan fatal. Tim forensik sedang memeriksa sampel minuman serta melakukan autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian, termasuk kemungkinan oplosan atau kontaminasi.

Salah satu aspek yang menarik perhatian adalah dugaan keterlibatan seorang personel militer aktif sebagai salah satu korban. Informasi dari masyarakat menyebut bahwa individu tersebut bertugas sebagai pembina desa di wilayah Sumbersari, meskipun identitas dan status resminya masih dalam tahap verifikasi mendalam. Hal ini menambah lapisan kompleksitas pada kasus, mengingat implikasi disiplin internal bagi institusi terkait.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, kasus serupa bukanlah hal baru di Indonesia. Konsumsi minuman keras ilegal sering menjadi pemicu insiden keracunan massal, terutama di kalangan kelompok sosial yang menggelar pertemuan informal. Data historis menunjukkan bahwa metanol—hasil sampingan fermentasi tidak sempurna—dapat menyebabkan kebutaan, gangguan sistem saraf, hingga kematian dalam hitungan jam jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Peristiwa ini menjadi pengingat akan perlunya regulasi lebih ketat terhadap peredaran arak tradisional serta edukasi publik mengenai bahaya konsumsi berlebihan.
Baca juga : Stabilitas Harga Beras Nasional: Dukungan Stok Cadangan yang Kuat Menjelang Pergantian Tahun
Menjelang pergantian tahun 2026, otoritas setempat berencana memperkuat pengawasan melalui patroli intensif dan operasi razia di titik-titik rawan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah pengulangan tragedi serupa, sekaligus mendorong perayaan yang lebih aman dan bertanggung jawab. Masyarakat diimbau untuk memilih aktivitas positif dan menghindari risiko yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kasus ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memicu refleksi lebih luas tentang tantangan penegakan hukum terhadap peredaran minuman beralkohol ilegal di tingkat lokal. Penyelidikan terus berlanjut untuk mengungkap rantai pasok minuman tersebut, dengan harapan dapat membawa keadilan dan pencegahan efektif di masa depan.
Pewarta : Wisnu Harmoko

