RI News Portal. Tegal 26 Desember 2025 – Di tengah maraknya jajanan goreng kekinian yang menawarkan varian rasa internasional, olos tetap mempertahankan posisinya sebagai camilan pedas autentik dari Jawa Tengah. Jajanan ini, yang kini tersebar di berbagai kota besar hingga dijual dalam bentuk kemasan beku, memiliki akar sejarah yang mendalam di sebuah desa kecil di Kabupaten Tegal. Olos tidak hanya merepresentasikan sensasi pedas yang intens, tetapi juga mencerminkan proses adaptasi kuliner rakyat yang organik, di mana inovasi lahir dari interaksi sehari-hari antara pedagang dan konsumen.
Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa olos bermula pada pertengahan dekade 1990-an, tepatnya sekitar tahun 1995, di Desa Jatirawa, Kecamatan Tarub. Awalnya, seorang pedagang risoles keliling bernama Khotiah menjajakan camilan isi sayuran standar seperti wortel, tauge, dan kol di lingkungan sekitar rumahnya. Risoles tradisional saat itu mengikuti pola umum: kulit tipis dari adonan tepung dengan isian sayuran yang direbus sederhana.
Namun, observasi Khotiah terhadap perilaku pembeli—khususnya anak-anak setempat—menjadi pemicu perubahan signifikan. Anak-anak tersebut cenderung menghindari wortel dan tauge, tetapi justru menyukai elemen pedas dari cabai rawit yang kadang ditambahkan sebagai penyedap. Permintaan berulang untuk “yang pedas saja” mendorong Khotiah bereksperimen dengan menghilangkan bahan yang kurang disukai dan memfokuskan isian pada kol serta cabai rawit segar. Hasilnya adalah varian baru yang lebih sederhana dalam produksi, tetapi lebih intens dalam rasa, yang langsung mendapat respons positif dari masyarakat lokal yang sudah terbiasa dengan cita rasa pedas khas pantura.

Aspek linguistik pun turut membentuk identitas olos. Nama “olos” sendiri muncul secara spontan dari kesulitan anak-anak dalam melafalkan “risoles”, yang berubah menjadi “oles” dan akhirnya “olos”. Proses penamaan ini mengilustrasikan bagaimana kuliner lokal sering kali berkembang melalui dinamika sosial bottom-up, bukan melalui strategi komersial terencana. Fenomena serupa dapat ditemui dalam berbagai tradisi kuliner Indonesia, di mana nama makanan sering berasal dari dialek lokal atau kesalahan ucap yang diterima secara kolektif.
Olos autentik dari Jatirawa memiliki karakteristik sensoris yang distinct dan sulit direplikasi secara massal. Pembuatan manual menghasilkan bentuk yang irreguler, tidak selalu bulat sempurna, mencerminkan proses handmade yang menghindari cetakan industri. Tekstur kulitnya cenderung lebih keras dan kenyal, berasal dari proporsi tepung terigu dan tepung kanji yang seimbang, memberikan kontras menarik saat digigit dengan isian yang lembab. Dominasi cabai rawit segar menciptakan kepedasan yang tajam dan langsung, berbeda dari varian modern yang sering mengandalkan bumbu bubuk untuk rasa pedas yang lebih terkendali.
Baca juga : Tutup Tanam TU/TK Kelapa Sawit PTPN IV Regional 1, Kebun Labuhan Haji Unit Grup Labuhan Batu Tahun 2025
Perkembangan olos sejak akhir 1990-an hingga kini menunjukkan adaptasi terhadap selera kontemporer. Varian isian kini meliputi protein seperti ayam suwir, sosis, bakso, atau bahkan elemen manis seperti jagung, sering dipadukan dengan taburan rasa kekinian. Distribusinya pun meluas, dari pedagang keliling di desa hingga gerai urban dan produk frozen yang memungkinkan preservasi jangka panjang. Meski demikian, versi original dengan isian kol dan cabai rawit tetap mendominasi preferensi puris, karena dianggap sebagai esensi dari identitas olos—sebuah simbol resiliensi kuliner tradisional di era globalisasi.

Secara sosiologis, olos merepresentasikan bagaimana makanan rakyat dapat menjadi agen ekonomi lokal. Di Desa Jatirawa, produksi olos telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak rumah tangga, menciptakan rantai nilai dari bahan baku lokal hingga distribusi regional. Fenomena ini selaras dengan pola umum dalam antropologi kuliner Indonesia, di mana camilan sederhana seperti olos berkontribusi pada pelestarian kearifan lokal sekaligus adaptasi terhadap perubahan zaman.
Olos, pada akhirnya, bukan sekadar jajanan pedas, melainkan narasi hidup tentang kreativitas masyarakat basis yang mampu mentransformasi bahan sederhana menjadi warisan budaya lintas generasi. Keberadaannya mengingatkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia sering kali tersembunyi dalam inovasi-inovasi kecil yang lahir dari kehidupan sehari-hari.
Pewarta : Ikhwanudin
