RI News Portal. Solo, 26 Desember 2025 – Di tengah hiruk-pikuk liburan akhir tahun, sebuah cerita inspiratif muncul dari perjalanan seorang kakek lanjut usia yang hampir tersesat jauh dari rumah. Mbah Subianto (74), warga Desa Junkie, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, akhirnya bisa pulang dengan selamat ke pelukan keluarganya setelah mengalami kekeliruan jurusan dalam perjalanan pulang dari Kalimantan Tengah. Kisah ini bukan hanya soal keberuntungan, tapi bukti nyata bagaimana gotong royong masyarakat dan kerjasama antarwilayah bisa menyelamatkan nyawa.
Perjalanan Mbah Subianto dimulai pada Rabu, 24 Desember 2025. Setelah mengunjungi anak dan cucunya di Kalimantan Tengah selama beberapa minggu, ia naik kapal laut menuju Surabaya. Dari pelabuhan, ia melanjutkan perjalanan dengan bus darat menuju Ngawi, tempat ia biasa turun sebelum melanjutkan ke Magetan. Namun, karena usianya yang sudah senja dan minimnya informasi rute, Mbah Subianto tak sengaja naik bus salah jurusan. Alih-alih tiba di Ngawi, ia justru berhenti di Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah.
Bingung dan lelah, Mbah Subianto memutuskan menyewa ojek untuk mencari jalan pulang. Ia menyebut tujuannya sebagai “Desa Junkie”. Sayangnya, kesamaan nama dengan Kelurahan Jungke di Kecamatan Karanganyar membuat pengemudi ojek mengantarnya ke sana. Sesampainya di Jungke sekitar pukul 16.00 WIB, Mbah Subianto tampak kelelahan dengan tas sederhana di punggungnya. Warga setempat, yang sedang beraktivitas di sekitar alun-alun, langsung menyadari ada yang tak beres.

“Seorang bapak lanjut usia sendirian dengan wajah bingung, kami langsung dekati dan tanya. Ternyata ia dari Magetan, bukan sini,” cerita seorang warga Jungke, yang enggan disebut namanya. Tanpa pikir panjang, warga berinisiatif mengantar Mbah Subianto ke Pos Pengamanan Terpadu di Alun-Alun Karanganyar. Di sana, petugas keamanan langsung memberikan air minum dan makanan ringan, sambil mendengarkan ceritanya dengan sabar.
Dari pos itu, cerita Mbah Subianto menyebar cepat. Petugas berkoordinasi dengan aparat di wilayah sekitar. Mbah Subianto diantar ke Polsek Karangpandan, lalu ke Polsek Tawangmangu yang berbatasan langsung dengan Magetan. Proses penyerahan berlangsung mulus: dari Polsek Tawangmangu ke Polsek Plaosan, hingga akhirnya sampai di Polres Magetan. Malam itu juga, sekitar pukul 21.00 WIB, Mbah Subianto diantar pulang ke Desa Junkie. Keluarganya yang sudah gelisah sejak sore langsung menangis haru saat melihat ayah dan kakek mereka kembali dalam keadaan sehat walafiat.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, mengapresiasi peristiwa ini sebagai teladan pelayanan yang hangat dan manusiawi. “Ini bukti bahwa kami tidak hanya menjaga ketertiban, tapi juga siap membantu siapa saja yang membutuhkan, terutama lansia. Dukungan warga sangat krusial; tanpa kepedulian mereka, cerita ini bisa berakhir berbeda,” ujarnya saat dihubungi.
Mbah Subianto sendiri, saat bertemu keluarga, hanya bisa tersenyum lebar. “Alhamdulillah, terima kasih kepada semua yang bantu. Saya kira sudah hilang, tapi ternyata banyak orang baik di luar sana,” katanya pelan, sambil memeluk cucu-cucunya.
Kisah Mbah Subianto menjadi pengingat bagi kita semua: di era digital ini, kesalahan kecil seperti salah bus bisa terjadi pada siapa saja. Tapi, dengan kepedulian sesama dan respons cepat dari masyarakat serta aparat, segala rintangan bisa teratasi. Semoga cerita seperti ini terus menginspirasi, menjadikan Indonesia tempat yang lebih aman dan penuh kasih sayang bagi setiap warganya.
Pewarta: Nandang Bramantyo

