RI News Portal. Padang, 23 Desember 2025 – Di tengah upaya pemulihan pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatera sejak akhir November 2025, Provinsi Sumatera Barat menunjukkan ketangguhan solidaritas dengan mengirimkan bantuan pangan khas berupa rendang siap saji ke daerah terdampak di Aceh dan Sumatera Utara.
Bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh curah hujan ekstrem – akibat interaksi siklon tropis langka dan fenomena La Niña – telah menyebabkan kerugian besar di tiga provinsi utama: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data terkini menunjukkan ribuan jiwa hilang nyawa, jutaan warga mengungsi, serta kerusakan infrastruktur yang luas, termasuk jalan, jembatan, dan fasilitas dasar. Faktor deforestasi masif di kawasan hulu turut memperparah dampak, mengubah aliran air hujan menjadi banjir bandang destruktif.
Meski sendiri sedang fokus pada percepatan pemulihan layanan dasar seperti air bersih, sanitasi, kesehatan, pendidikan, dan hunian sementara pasca-berakhirnya masa tanggap darurat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tetap memperlihatkan komitmen kemanusiaan. Pada 22 Desember 2025, Gubernur Mahyeldi Ansharullah secara simbolis melepas pengiriman bantuan rendang dari halaman Istana Gubernur di Padang.

Total rendang yang dikirim mencapai 2,5 ton, dengan alokasi satu ton untuk Aceh, 500 kilogram untuk Sumatera Utara, serta satu ton untuk distribusi internal di wilayah Sumatera Barat yang terdampak. Inisiatif ini berasal dari Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Sumatera Barat, Harneli, yang menggalang partisipasi aktif dari berbagai kelompok perempuan.
Proses produksi rendang dilakukan secara kolektif di dapur Istana Gubernur sejak 15 Desember 2025. Para relawan dari TP-PKK, Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), dan Dharma Wanita Persatuan bekerja bergotong royong, memasak dengan semangat keikhlasan meski di tengah kondisi sulit yang juga dialami provinsi sendiri.
“Rendang bukan hanya makanan tahan lama yang praktis untuk situasi darurat, tetapi juga membawa pesan kehangatan budaya Minangkabau. Di saat akses dapur terbatas bagi para penyintas, pangan siap saji seperti ini dapat memberikan nutrisi esensial sekaligus dukungan moral,” ungkap Harneli.
Selain rendang, pengiriman juga mencakup barang kebutuhan lain seperti pakaian anak dan dewasa, Al-Qur’an, perlengkapan salat, kasur, sandal, serta item dasar lainnya yang diharapkan mendukung pemenuhan kebutuhan sehari-hari pengungsi.
Gubernur Mahyeldi menekankan bahwa aksi ini mencerminkan nilai filosofis masyarakat Minang: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Meski prioritas utama saat ini adalah pendataan kerusakan dan rehabilitasi infrastruktur, semangat berbagi tetap menjadi pilar ketangguhan sosial.
Para ahli penanggulangan bencana menilai inisiatif semacam ini krusial dalam fase transisi dari tanggap darurat ke rehabilitasi. Rendang, dengan daya tahan hingga berminggu-minggu tanpa pendingin, ideal untuk kondisi di mana pasokan listrik dan logistik masih terganggu. Lebih dari itu, bantuan antar-provinsi ini memperkuat jaringan solidaritas regional, yang esensial untuk resiliensi jangka panjang terhadap ancaman iklim yang semakin intens.
Dengan pengiriman ini, harapan disematkan agar proses distribusi berjalan aman dan bantuan tepat sasaran, memberikan kontribusi nyata bagi percepatan pemulihan masyarakat di Aceh dan Sumatera Utara, sekaligus menginspirasi gelombang kepedulian lebih luas di tengah musibah bersama Pulau Sumatera.
Pewarta : Sami S

