RI News Portal. Padangsidimpuan, 7 Desember 2025 – Bencana pergeseran tanah yang melanda Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dalam sepekan terakhir meninggalkan luka mendalam bagi ratusan warga. Fenomena geologis yang memicu retakan tanah luas dan longsor masif telah menghancurkan puluhan rumah warga, merusak infrastruktur dasar, serta memaksa sebagian besar penduduk mengungsi ke lokasi yang lebih aman di desa-desa tetangga dalam kecamatan yang sama.
Menurut keterangan warga setempat, kerusakan terjadi sangat cepat. Tanah yang bergeser menyebabkan sebagian besar perkampungan di Tandihat rata dengan tanah atau mengalami keretakan parah. Akses jalan utama menuju desa terputus total, jaringan listrik lumpuh, dan pasokan air bersih terhenti. Hingga akhir pekan ini, banyak keluarga masih bertahan di posko-posko darurat sederhana tanpa penerangan memadai dan kebutuhan pokok yang terbatas.
Seorang warga Desa Tandihat yang enggan disebutkan namanya menyampaikan rasa kecewa mendalam atas kondisi yang dialaminya. “Rumah kami sudah tidak bisa ditempati lagi. Anak-anak sebentar lagi mau masuk sekolah, tapi bagaimana bisa belajar kalau listrik mati, pakaian dan perlengkapan sekolah hilang tertimbun tanah,” ujarnya dengan nada pilu. Ia menambahkan bahwa kunjungan Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, ke posko pengungsian beberapa hari lalu hanya bersifat seremonial dan belum diikuti tindakan nyata berupa bantuan logistik yang memadai.

Keresahan serupa juga muncul dari warga Tolang Julu, Kecamatan Sayur Matinggi, yang terdampak banjir bandang dan longsor pada periode yang sama. Melalui pesan suara, salah seorang warga menyatakan kekecewaannya karena hingga kini belum menerima bantuan dari pemerintah kabupaten. “Kami tahu banyak daerah lain di Tapanuli Selatan juga kena musibah, tapi tolong dengarkan jeritan kami. Sudah berminggu-minggu kami hidup dalam ketakutan dan kekurangan,” katanya.
Trauma psikologis menjadi dampak lain yang tak kalah berat. Banyak warga, terutama anak-anak dan lansia, masih menunjukkan gejala ketakutan berlebih setiap kali hujan turun atau terdengar suara gemuruh dari bukit sekitar. Ketidakpastian kapan mereka dapat kembali ke rumah—atau apakah rumah baru akan dibangun—memperparah kondisi kejiwaan mereka.
Hingga berita ini disusun pada Minggu (7/12/2025), belum ada pernyataan resmi dari Bupati Tapanuli Selatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, maupun koordinator tanggap darurat kecamatan terkait rencana pemulihan jangka pendek maupun panjang. Ketidakjelasan ini menambah rasa cemas di kalangan korban yang masih menanti kepastian bantuan pangan, sandang, relokasi sementara, serta perbaikan infrastruktur vital.
Baca juga : Kemendikdasmen Dorong Pembelajaran Mendalam sebagai Fondasi Transformasi Pendidikan Dasar
Para pengamat bencana di Sumatera Utara menilai bahwa peristiwa di Tapanuli Selatan ini menjadi pengingat kembali akan kerentanan wilayah pegunungan terhadap gerakan tanah, terutama di musim hujan ekstrem. Tanpa langkah mitigasi yang komprehensif—termasuk pemetaan zona rawan dan penegakan tata ruang yang ketat—bencana serupa berpotensi berulang dan menimbulkan korban serta kerugian yang lebih besar di masa depan.
Warga Tandihat dan sekitarnya kini hanya bisa berharap agar suara mereka benar-benar didengar dan ditindaklanjuti oleh pihak berwenang, sehingga proses pemulihan dapat segera dimulai sebelum trauma dan kesulitan hidup mereka bertambah dalam.
Pewarta : Adi Tanjoeng

