Skip to content
19/01/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Budaya
  • Hiburan
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • Trending
  • Refleksi Hari Kesaktian Pancasila: Ujian Kesaktian di Tengah Hegemoni Global dan Tantangan Internal

Refleksi Hari Kesaktian Pancasila: Ujian Kesaktian di Tengah Hegemoni Global dan Tantangan Internal

Jurnalis RI News Portal Posted on 4 bulan ago 4 min read
Refleksi Hari Kesaktian Pancasila
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. Semarang 1 Oktober 2025 – Di tengah hiruk-pikuk perubahan global yang semakin cepat, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober. Peringatan ini bukan hanya ritual tahunan yang sarat simbolisme, melainkan panggilan untuk merefleksikan ketahanan ideologi negara di tengah arus deras kapitalisme, digitalisasi, dan polarisasi internal. Berdasarkan sejarahnya, hari ini merujuk pada peristiwa tragis antara 30 September hingga 1 Oktober 1965, yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S), di mana upaya kudeta yang dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) gagal, sehingga Pancasila tetap berdiri sebagai dasar negara. Namun, enam dekade kemudian, pertanyaan krusial muncul: Apakah Pancasila masih “sakti” di era ini, atau justru sedang diuji oleh dinamika baru yang lebih halus namun tak kalah mengancam?

Hari Kesaktian Pancasila secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto pada 5 Oktober 1966, menyusul kegagalan upaya kudeta yang menewaskan enam jenderal Angkatan Darat. Narasi resmi Orde Baru menggambarkan peristiwa ini sebagai pemberontakan PKI yang bertujuan mengganti Pancasila dengan ideologi komunis, sehingga Pancasila dianggap “sakti” karena berhasil mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perayaan ini awalnya hanya diperingati oleh kalangan militer, sebelum menjadi hari nasional yang menekankan Pancasila sebagai fondasi pemersatu masyarakat majemuk.

Namun, perspektif sejarah ini tidak luput dari kontroversi. Beberapa ahli dan korban peristiwa 1965-1966 memandang narasi resmi sebagai propaganda Orde Baru untuk membenarkan pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI, yang diperkirakan mencapai ratusan ribu hingga jutaan jiwa. Dokumen-dokumen seperti film propaganda “Pengkhianatan G30S/PKI” (1984) dianggap sebagai alat untuk memperkuat stigma anti-komunis, sementara penelitian internasional menunjukkan keterlibatan militer dan dukungan asing, termasuk dari Amerika Serikat, dalam pembantaian tersebut. Pandangan alternatif ini menekankan bahwa peristiwa tersebut bukan semata-mata pemberontakan PKI, melainkan konflik internal militer yang dieksploitasi untuk perebutan kekuasaan. Di era reformasi, diskusi ini semakin terbuka, meskipun stigma komunisme masih menghantui, seperti dalam perdebatan revisi KUHP yang mempertahankan pasal anti-komunisme.

Enam dekade pasca-1965, lanskap ideologi dunia telah bergeser drastis. Runtuhnya Uni Soviet pada 1991 menandai akhir dominasi komunisme, digantikan oleh hegemoni kapitalisme pasar bebas, globalisasi budaya, dan penetrasi teknologi digital. Pancasila, yang terbukti “sakti” menghadapi ancaman ideologi asing selama Perang Dingin, kini dihadapkan pada tantangan baru: homogenisasi budaya melalui media sosial, ketimpangan ekonomi akibat neoliberalisme, dan erosi nilai tradisional oleh algoritma digital.

Baca juga : Inter Milan Dominasi Slavia Praha dengan Kemenangan 3-0 di Liga Champions

Para pakar menilai Pancasila tetap relevan sebagai pedoman yang menyeimbangkan kebebasan individu dengan kepentingan kolektif, keterbukaan global dengan kearifan lokal. Sebagai ideologi terbuka, Pancasila bukan sekadar kompromi politik founding fathers, melainkan filosofi hidup yang mampu menjawab krisis kontemporer, seperti ketidakadilan sosial dan konflik identitas. Dalam konteks diplomatik, Pancasila selaras dengan Prinsip Bandung 1955, yang menekankan perdamaian dan kerjasama antar-negara berkembang, seperti dalam hubungan Indonesia-China yang menolak unilateralisme. Namun, implementasinya sering gagal: korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) masih merajalela, sementara ketimpangan sosial-ekonomi melebar, menurut data Bank Dunia dan laporan lokal.

Di media sosial seperti X (sebelumnya Twitter), peringatan tahun ini dirayakan dengan ucapan selamat dan refleksi, tapi juga kritik. Beberapa pengguna menolak “dogma” G30S/PKI sebagai narasi usang, sementara yang lain menekankan Pancasila sebagai “philosophische grounding” atau fondasi filsafat hidup. Diskusi ini mencerminkan polarisasi: dari upacara resmi di instansi pemerintah hingga perdebatan tentang Pancasila sebagai alat penguatan persatuan di era digital.

Tantangan terbesar Pancasila bukan lagi ideologi asing, melainkan praktik internal bangsa sendiri. Politik identitas, intoleransi agama, dan konflik etnis sering menantang semangat Bhinneka Tunggal Ika, seperti kasus-kasus kekerasan di berbagai daerah. Selain itu, globalisasi ekonomi telah menciptakan “enclave” yang terisolasi secara sosial, di mana dominasi etnis tertentu dan konglomerat global mengancam kedaulatan. Para analis menyoroti bahwa Pancasila harus diaktualisasikan sebagai benteng terhadap radikalisme, sekularisme berlebih, dan sosialisme-komunisme yang tersisa, sambil tetap fleksibel menghadapi perubahan.

Untuk menjaga kesaktiannya, diperlukan pendekatan holistik: pendidikan Pancasila yang tidak dogmatis, kebijakan ekonomi yang inklusif, dan dialog lintas generasi. Seperti disoroti dalam seminar UGM, Pancasila adalah cerminan budaya bangsa yang harus hidup dalam praktik sehari-hari, bukan hanya seremoni. Di tengah krisis kemanusiaan global, pidato Presiden Prabowo di PBB baru-baru ini menegaskan Pancasila sebagai role model diplomasi damai.

Pancasila tetap sakti jika diimplementasikan secara nyata. Di era global, kesaktiannya terletak pada kemampuan menyeimbangkan perubahan dengan identitas nasional. Namun, tanpa aksi konkret melawan korupsi dan ketimpangan, Pancasila berisiko menjadi slogan kosong. Peringatan hari ini harus menjadi momentum introspeksi, bukan hanya perayaan. Mari kita jadikan Pancasila sebagai pedoman hidup, perekat bangsa menuju Indonesia yang adil dan makmur.

Pewarta : Setiawan Wibisono

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Inter Milan Dominasi Slavia Praha dengan Kemenangan 3-0 di Liga Champions
Next: BP Tapera Tegaskan Kontinuitas Layanan di Tengah Reformasi Hukum Pasca Putusan MK

Related Stories

Lonjakan Produksi Industri Manufaktur Tunjukkan Ketahanan Ekonomi Nasional
3 min read

Awal Tahun 2026: Lonjakan Produksi Industri Manufaktur Tunjukkan Ketahanan Ekonomi Nasional

Jurnalis RI News Portal Posted on 14 jam ago 0
Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul
2 min read

Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul: Momen Hangat di Pernikahan Orang Kepercayaan

Jurnalis RI News Portal Posted on 14 jam ago 0
Legislator Pontianak Dukung Penuh Skema Buy The Service untuk Transformasi Transportasi Publik
2 min read

Legislator Pontianak Dukung Penuh Skema Buy The Service untuk Transformasi Transportasi Publik

Jurnalis RI News Portal Posted on 15 jam ago 0
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video

Komentar

  1. Sami.s mengenai Kota Kediri Naik Kelas: Predikat “Sangat Inovatif” dalam Innovative Government Award 2025
  2. Sami.s mengenai Dugaan Penyalahgunaan Solar Bersubsidi di Pesisir Selatan: Antara Keluhan Masyarakat dan Kebijakan Pembatasan Provinsi
  3. Adi tanjoeng mengenai Petugas Karantina Ketapang Gagalkan Penyelundupan 120 Kg Hiu Dilindungi CITES di Banyuwangi
  4. Sugeng Rudianto mengenai Polres Wonogiri Perkuat Pencegahan Bullying melalui Pendekatan Edukasi Dini di Sekolah Dasar
  5. Sami.s mengenai Iran dan Rusia Sepakat Perluas Model Kerja Sama Pertanian ke Sektor Strategis Lainnya

Berita Video

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Awal Tahun 2026: Lonjakan Produksi Industri Manufaktur Tunjukkan Ketahanan Ekonomi Nasional
  • Prabowo dan Jokowi Bersama Sahkan Ijab Kabul: Momen Hangat di Pernikahan Orang Kepercayaan
  • Doa Bersama Tokoh Adat, Spiritual, dan Lintas Agama Kawal Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara
  • Ribuan Umat Hindu Berdoa di Joglo Pesantren: Klaten Menulis Babak Baru Harmoni Lintas Iman
  • Padang Perluas Akses Pendidikan Internasional melalui Kerja Sama dengan Guangdong
Copyright © RI News Production | PT. Virnanda Creator Productions | Editor IT. Setiawan Wibisono.