RI News. Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengumumkan rencana ambisius untuk merampingkan struktur grupnya secara signifikan, dengan memangkas jumlah anak usaha dari sekitar 60 entitas menjadi hanya 14 perusahaan inti. Langkah ini menjadi bagian integral dari program transformasi jangka menengah perusahaan menuju tahun 2030, yang dikenal sebagai TLKM 30.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra—yang akrab disapa Lolo—menjelaskan bahwa inisiatif ini melibatkan serangkaian aksi korporasi strategis untuk menyederhanakan organisasi dan mengoptimalkan pengelolaan aset. “Dari sekitar 60 entitas yang ada saat ini, intensi kami adalah mengurangi jumlah itu menjadi sekitar 14. Artinya, kurang lebih 50 entitas akan mengalami penataan ulang melalui berbagai mekanisme,” ujarnya dalam sesi konferensi video pada acara media update di Jakarta, Kamis lalu.
Menurut Syailendra, Telkom telah melakukan pemetaan mendalam terhadap entitas-entitas tersebut dan menetapkan beberapa opsi utama. Pertama, divestasi atau pelepasan saham pada anak usaha yang tidak lagi selaras dengan strategi inti perusahaan. Kedua, pembubaran atau likuidasi entitas yang sudah tidak aktif beroperasi, sering kali karena usia perusahaan yang lama atau kurangnya pembaruan kegiatan bisnis. “Beberapa entitas ini sudah tidak memiliki aktivitas operasional yang berarti, sehingga lebih efisien jika ditutup,” tambahnya.

Selain itu, sejumlah anak usaha akan digabungkan melalui proses merger untuk menghilangkan tumpang tindih fungsi dan memperkuat posisi kompetitif di lini bisnis terkait. Telkom juga sedang mengevaluasi kepemilikan minoritas di berbagai perusahaan, di mana investasi tersebut dinilai tidak memberikan kontribusi nilai tambah yang signifikan. “Kami melihat investasi minoritas di beberapa entitas yang nilainya kurang meaningful bagi grup, sehingga perlu ditata ulang,” kata Syailendra.
Perampingan struktur ini merupakan salah satu pilar utama dalam agenda transformasi Telkom, khususnya pada aspek streamlining atau penyederhanaan organisasi. Tujuannya adalah menciptakan grup yang lebih ramping, efisien, dan fokus pada bisnis inti, sambil mengurangi birokrasi serta meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan. Dengan demikian, Telkom bertransformasi menjadi strategic holding yang lebih kuat, di mana induk usaha berperan strategis, sementara operasional utama dijalankan oleh entitas-operating company yang lebih lincah di masing-masing segmen.
Baca juga : Ginting: Persaingan Tunggal Putra Swiss Open 2026 Sangat Ketat, Fokus pada Diri Sendiri Jadi Kunci
Secara keseluruhan, TLKM 30 dibangun di atas empat pilar pertumbuhan utama yang menjadi mesin penggerak perusahaan ke depan: bisnis B2C (konsumen ritel), layanan IT B2B, infrastruktur digital, serta ekspansi bisnis internasional. Dengan struktur yang lebih sederhana, Telkom diharapkan dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih optimal, mempercepat inovasi, dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi pemegang saham serta ekosistem digital nasional.
Langkah ini sejalan dengan upaya perusahaan untuk beradaptasi dengan dinamika industri telekomunikasi dan digital yang semakin kompetitif, di mana fokus pada core competency menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang. Proses penataan portofolio ini diharapkan berlangsung bertahap, dengan berbagai aksi korporasi yang akan diumumkan secara berturut-turut seiring kemajuan implementasi.
Pewarta : Yudha Purnama

