RI News. Wonogiri – Selain memberikan uang kepada anak-anak saat Lebaran, warga di sejumlah wilayah Kabupaten Wonogiri memiliki tradisi unik lain, yaitu memberikan zakat fitrah kepada kepala dusun (kadus) yang memimpin wilayah dusun setempat.
Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada kadus sebagai tokoh masyarakat di tingkat dusun. Kadus biasanya membawahi beberapa Rukun Tetangga (RT) dan satu Rukun Warga (RW). Pemberian fitrah kepada kadus tidak sekadar menyerahkan uang, melainkan memiliki makna mendalam, sekaligus menjadi ajang halal bihalal atau saling memaafkan antarwarga.
Salah satu desa yang masih melestarikan tradisi ini adalah Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

Warga Desa Tanggulangin, Sartono, mengatakan bahwa tradisi fitrah Jawa atau pemberian fitrah kepada kadus setempat masih dilakukan setiap Lebaran. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun sejak zaman dahulu sebagai ungkapan terima kasih kepada kadus yang telah memimpin warganya dengan baik.
“Di sini, setiap keluarga memberikan fitrah senilai Rp30.000 untuk Lebaran tahun 2026 kepada kadus. Saya tanyakan ke beberapa wilayah lain, nilainya juga sekitar segitu per keluarga,” kata Sartono saat ditemui wartawan, Minggu (22/3/2026).
Asal-usul tradisi ini tidak diketahui secara pasti. Menurut Sartono, pada zaman dulu kadus memiliki peran seperti lurah dengan pengaruh yang cukup besar di wilayahnya, sehingga sangat dihormati oleh warga.
Proses pemberian fitrah dilakukan oleh para kepala keluarga secara bersamaan di rumah kadus melalui mekanisme tertentu. Setelah prosesi selesai, biasanya dilanjutkan dengan acara halal bihalal atau saling memaafkan.
Tradisi ini juga bertujuan memupuk kebersamaan dan kerukunan warga dusun. Meskipun nilai uang yang diberikan tidak terlalu besar, yang lebih utama bagi warga adalah menjaga keharmonisan sosial.
Mencuci Alat Pertanian sebagai Pendahuluan
Pada masa lalu, tradisi fitrah Jawa ini didahului dengan proses mencuci alat pertanian oleh warga. Proses tersebut merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dari hasil pertanian, sekaligus bentuk terima kasih kepada alat-alat tersebut yang telah membantu petani mengolah sawah hingga panen.
Namun, kini proses mencuci alat pertanian tersebut sudah jarang dilakukan. Hanya segelintir warga, terutama orang tua yang masih bertani, yang melestarikannya.
“Biasanya, fitrah Jawa didahului dengan mencuci peralatan pertanian di rumah masing-masing. Dulu banyak yang melakukannya, sekarang sudah berkurang, tinggal beberapa orang tua petani saja,” ujar Sartono.
Salah satu warga Desa Tanggulangin yang masih menjalankan tradisi mencuci alat pertanian saat Lebaran adalah Siman Nurhadi. “Biasanya dilakukan di depan rumah. Ada yang mencucinya sambil menggunakan kembang juga,” kata dia.
Tradisi fitrah Jawa ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Wonogiri dalam menjaga harmoni sosial dan rasa syukur, sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya turun-temurun di tengah perubahan zaman.
Pewarta: Nandar Suyadi

