RI News Portal. Jakarta 2 Januari 2026 – Pada awal Januari 2026, film Tinggal Meninggal kembali menjadi perbincangan setelah resmi tersedia di layanan streaming, menyusul penayangan bioskopnya pada Agustus 2025. Karya debut penyutradaraan panjang Kristo Immanuel ini menawarkan pendekatan dark comedy yang reflektif, dengan menyoroti bagaimana empati sering kali bersifat sementara dan kondisional dalam relasi sosial kontemporer.
Cerita berfokus pada Gema, seorang karyawan kantor yang introvert dan kerap merasa tak terlihat di lingkungannya. Kehidupan monotonnya terguncang saat ayahnya wafat, yang secara tak terduga memicu gelombang simpati dari rekan kerja. Untuk pertama kalinya, Gema merasakan pengakuan dan kehangatan yang selama ini ia rindukan. Namun, ketika perhatian itu mulai pudar, ia dilanda kecemasan mendalam akan kembali ke isolasi semula.
Dalam tekanan psikologis itu, Gema memilih jalan pintas: merangkai kebohongan tentang kematian orang-orang terdekat demi mempertahankan simpati tersebut. Apa yang dimulai sebagai akal-akalan kecil berkembang menjadi serangkaian situasi absurd dan tak terkendali, mengungkap lapisan-lapisan kerapuhan hubungan manusia di tengah rutinitas urban.
Performa Omara Esteghlal sebagai Gema menjadi elemen sentral yang menggerakkan narasi. Ia berhasil menangkap nuansa kecanggungan fisik sekaligus pergolakan batin yang kompleks, membuat penonton turut merasakan kesepian eksistensial tokoh tersebut. Esteghlal, yang juga terlibat sebagai co-executive producer, membawa lapisan autentisitas pada karakter yang terinspirasi dari pengalaman neurodivergen dan kesulitan bersosialisasi.

Pemeran pendukung seperti Nirina Zubir, Mawar de Jongh, Muhadkly Acho, dan Ardit Erwandha memperkaya dinamika sosial di sekitar Gema. Mereka mewakili berbagai archetype dalam lingkungan kerja modern—dari yang tulus hingga yang performatif—sehingga mempertegas satir tentang “empati semu” yang kerap muncul hanya saat tragedi.
Kristo Immanuel, yang juga menulis naskah bersama Jessica Tjiu, mengadopsi teknik breaking the fourth wall di mana Gema sesekali berbicara langsung kepada penonton. Pendekatan ini tidak sekadar gimmick, melainkan alat untuk memperdalam refleksi psikologis, sekaligus menambahkan lapisan humor absurd yang segar. Film ini juga menggunakan simbolisme visual, seperti ngengat sebagai metafor kematian dan kerapuhan, untuk memperkuat tema eksistensial.
Baca juga : Pengumuman Resmi Jadwal Tayang Drama Pendek WIND UP Dibintangi Jeno dan Jaemin NCT
Dari perspektif sosiologis, Tinggal Meninggal mengkritik bagaimana masyarakat modern sering memberikan perhatian hanya sebagai respons terhadap kehilangan, bukan kehadiran sehari-hari. Ini mencerminkan fenomena “performative empathy” di era digital, di mana dukungan sosial cenderung reaktif dan cepat memudar. Dengan humor gelap yang tidak menghakimi, film ini mengajak penonton merefleksikan tekanan untuk “terlihat” di tengah kesepian kolektif, sekaligus menekankan pentingnya empati yang berkelanjutan.
Sebagai debut, karya ini menunjukkan kematangan visi Kristo Immanuel dalam menggabungkan hiburan dengan komentar sosial yang tajam, menjadikannya salah satu film Indonesia kontemporer yang layak mendapat perhatian lebih luas.
Pewarta : Vie

