RI News. Cipeundeuy, Bandung Barat – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menunjukkan komitmen kuat terhadap pembentukan karakter siswa melalui intervensi langsung di lapangan. Saat melintas di kawasan Cipeundeuy, ia menemukan sekelompok siswa SMA yang baru pulang sekolah sedang merokok bergerombol di sebuah warung, tanpa satupun mengenakan helm pengaman. Seluruh pelajar masih mengenakan seragam sekolah lengkap, dan kejadian tersebut langsung memicu teguran tegas dari orang nomor satu di Jawa Barat.
Dedi Mulyadi yang akrab disapa Kang Dedi segera mendekati kelompok tersebut. Setelah menanyai salah seorang siswa, diketahui mereka berasal dari SMA Negeri 1 Cipeundeuy. Dengan nada penuh keprihatinan, ia mengingatkan betapa sulitnya proses pembangunan sekolah yang kini justru dihadapi pelanggaran disiplin. “Kita bangun sekolah itu susah. Sekolahnya yang benar ya. Saya nanti awasi daerah ini,” tegasnya.
Ia juga menyoroti aspek keselamatan lalu lintas. Dedi Mulyadi menanyakan langsung kepada siswa yang tidak memakai helm, “Umur 16 tahun menurut Undang-Undang sudah boleh pakai motor belum?” Siswa tersebut mengakui bahwa usia mereka memang belum diperbolehkan mengendarai motor di jalan raya, meskipun sudah mampu melakukannya secara teknis.

Tidak berhenti di situ, Dedi Mulyadi juga menemui siswa lain yang mengendarai sepeda motor dengan knalpot brong bersuara keras. “Kamu sekolah nggak disiplin,” katanya sambil menegaskan sikap tegas terhadap pelanggaran aturan lalu lintas. Ia bahkan mengancam konsekuensi akademik bagi pelaku: jika siswa masih menggunakan motor dengan knalpot brong, ia akan memastikan yang bersangkutan tidak naik kelas. “Saya tahu nama-nama kalian semua. Nanti saya datangi kepala sekolahnya,” tambahnya.
Langsung setelah kejadian, Gubernur Dedi Mulyadi mendatangi SMA Negeri 1 Cipeundeuy. Ia bertemu dengan para guru, termasuk Wakil Kepala Sekolah, dan menyampaikan kekecewaannya atas kondisi disiplin siswa. “Gimana kok anak-anaknya nggak disiplin di sini, nggak cerminkan cita-cita pendidikan yang saya impikan,” ujarnya. Dedi Mulyadi menekankan bahwa tidak ada satu pun siswa yang mengenakan helm saat bergerombol, sebuah fakta yang menurutnya sangat memprihatinkan.
Seorang guru menjelaskan bahwa siswa diberi waktu dua bulan untuk menabung membeli helm. Namun, Dedi Mulyadi menepis alasan tersebut. Menurutnya, setiap orang yang memiliki motor pasti sudah memiliki helm, karena biasanya helm menjadi bonus saat pembelian kendaraan. Untuk menyelesaikan akar masalah, ia mengusulkan pengumpulan orang tua siswa guna menyusun pakta integritas bersama. “Mau nggak disiplin? Karena tujuan sekolah membentuk karakter manusia, bukan hanya sekedar belajar mengajar,” tegasnya.
Dedi Mulyadi menutup tegurannya dengan visi jangka panjang untuk pendidikan di Jawa Barat. “Saya ingin anak-anak Jabar itu bukan hanya pintar akademik, tetapi mentalnya terbentuk panca waluya, itu bukan hanya teori,” pungkasnya. Teguran ini diharapkan menjadi momentum reformasi disiplin sekolah yang lebih holistik, di mana pendidikan karakter dan keselamatan menjadi prioritas utama.
Insiden ini mencerminkan pendekatan proaktif Gubernur Dedi Mulyadi dalam mengawasi implementasi pendidikan di daerah, sekaligus mengingatkan semua pihak bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan wahana pembentukan generasi yang bertanggung jawab dan disiplin.
Pewarta : Vie

