RI News Portal. Wonogiri, Jawa Tengah – Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), sebuah inisiatif pemerintah nasional yang dirancang untuk mentransformasi koperasi desa menjadi pusat kegiatan ekonomi multifungsi, terus menghadapi hambatan signifikan dalam pelaksanaannya di tingkat lokal. Di Kabupaten Wonogiri, faktor geografis dan pengelolaan aset desa menjadi penghalang utama, meskipun program ini bertujuan mempercepat pemerataan ekonomi melalui integrasi layanan terpadu di pedesaan.
Program KDMP merevolusi peran tradisional koperasi desa, yang sebelumnya terbatas pada fungsi simpan pinjam. Kini, koperasi didorong menjadi entitas serba guna yang mencakup pengelolaan kios pangan, apotek desa, jasa logistik, dan bahkan klinik kesehatan dasar. Setiap unit KDMP dirancang dengan infrastruktur modern, termasuk fasilitas penyimpanan dingin untuk produk pertanian, sistem pembayaran digital, serta koneksi internet yang mendukung transaksi online dan pemantauan bisnis secara waktu nyata. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat desa untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital.
Secara strategis, KDMP difokuskan pada peningkatan kesejahteraan komunitas pedesaan melalui penciptaan sumber pendapatan tambahan dan lapangan kerja. Program ini juga menekankan kemandirian pangan lokal, pengembangan sektor agroindustri, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tingkat desa. Dengan demikian, KDMP diharapkan membangun ekosistem ekonomi yang lebih resilien, mengurangi ketergantungan pada pusat-pusat urban, dan mendukung agenda nasional untuk pembangunan berkelanjutan di wilayah pedesaan yang seringkali tertinggal.

Namun, realitas lapangan di Wonogiri menunjukkan bahwa tidak semua desa dapat menerapkan program ini dengan mulus. Kendala utama muncul dari kondisi spesifik lokasi, di mana banyak tanah desa masih digunakan secara produktif untuk pertanian, sehingga sulit untuk dialihfungsikan menjadi situs pembangunan. Selain itu, keberadaan bangunan lama yang masih kokoh dan fungsional sering kali membuat pembangunan baru dianggap sebagai prioritas rendah. Faktor topografi semakin memperumit situasi: di daerah dataran tinggi, kontur tanah berteras dengan jurang curam menyulitkan pemilihan lokasi yang aman dan mudah diakses, berpotensi meningkatkan risiko keselamatan dan biaya konstruksi.
Situasi ini terlihat jelas di Kecamatan Slogohimo, di mana proses implementasi masih tertatih. Sertu Budi Widodo, sebagai Babinsa Desa Slogohimo, mengungkapkan bahwa hingga kini ada lima desa di wilayahnya yang belum memulai pembangunan fisik gedung KDMP. Meski begitu, satu desa telah berhasil memanfaatkan lokasi bekas gedung sekolah yang tidak lagi digunakan. “Tinggal empat desa yang masih menunggu rekomendasi dari pihak desa dan kecamatan. Proses musyawarah desa masih berlangsung untuk menentukan lokasi yang sesuai dengan kesepakatan warga,” ujar Budi Widodo.
Baca juga : Gebyar Pendidikan Dini: Ribuan Anak Pasaman Barat Rayakan Kreativitas di Tengah Pemulihan Bencana
Parlan, yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pembangunan KDMP di Desa Slogohimo, menekankan bahwa keputusan lokasi sepenuhnya berada di tangan pemerintah desa dan masyarakat setempat. “Kami sebagai pelaksana pembangunan diawasi oleh pihak TNI, dengan peran mereka terbatas pada pendampingan dan pengawasan,” katanya. Meskipun demikian, Sertu Budi Widodo tetap optimistis terhadap kemajuan. “Pada Januari 2026 ini, beberapa desa di Slogohimo diharapkan dapat mempercepat pengerjaan, sehingga ada beberapa gedung yang bisa ikut serta dalam peluncuran serentak yang direncanakan,” tambahnya.
Kendala di Wonogiri mencerminkan tantangan lebih luas dalam program pembangunan berbasis desa di Indonesia, di mana keragaman geografis dan sosial memerlukan adaptasi kontekstual. Keberhasilan KDMP ke depan akan bergantung pada inovasi lokal, seperti pemanfaatan aset yang sudah ada atau modifikasi desain bangunan agar sesuai dengan kondisi lahan. Analisis akademis menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini tidak hanya mengatasi hambatan fisik tetapi juga memperkuat partisipasi masyarakat, yang krusial untuk keberlanjutan program.
Secara keseluruhan, KDMP tetap menjadi pilar harapan dalam upaya pemerataan ekonomi nasional, khususnya di pedesaan yang selama ini kurang terjangkau oleh layanan ekonomi modern. Dengan penyesuaian yang tepat, program ini berpotensi menjadi model sukses untuk transformasi ekonomi inklusif di tingkat grassroot.
Oleh: Nandar Suyadi

