RI News Portal. Wonogiri 8 Januari 2026 – Momentum penguatan kedaulatan pangan nasional kembali ditegaskan melalui aksi nyata di tingkat daerah. Bertempat di hamparan persawahan Desa Kedungupit, Kecamatan Sidoharjo, Kepolisian Resor (Polres) Wonogiri bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar panen raya jagung serentak pada Kamis (8/1/2026). Langkah ini bukan sekadar seremoni pertanian, melainkan manifestasi dari integrasi kebijakan pusat dan daerah dalam kerangka Asta Cita.
Kegiatan ini mencerminkan model kolaborasi modern yang melibatkan Wakil Bupati Wonogiri, Kapolres Wonogiri, Kepala Kejaksaan Negeri, hingga jajaran Kodim 0728/Wonogiri. Menariknya, koordinasi ini terhubung secara vertikal melalui siaran langsung di Bekasi, Jawa Barat, yang dipimpin langsung oleh Kapolri. Pola komunikasi ini menunjukkan adanya sinkronisasi program dari level pusat hingga ke unit terkecil di perdesaan.

Panen raya di Wonogiri mencakup area seluas 25 hektare yang terdistribusi secara proporsional di 25 kecamatan. Data lapangan memproyeksikan potensi eskalasi produksi yang signifikan, dengan estimasi 1.000 hektare lahan jagung tambahan yang akan memasuki fase panen dalam 30 hari ke depan. Angka ini menegaskan posisi strategis Wonogiri sebagai salah satu lumbung penyokong ketahanan pangan di Jawa Tengah.
Kapolres Wonogiri, AKBP Wahyu Sulistyo, menekankan bahwa keterlibatan institusi kepolisian dalam sektor agrikultur merupakan upaya preventif dan dukungan strategis terhadap program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, stabilitas ketahanan pangan memiliki korelasi linear dengan stabilitas keamanan wilayah.
“Sinergi bersama Forkopimda dan petani ini adalah wujud nyata dukungan kami terhadap swasembada jagung. Ini merupakan implementasi konkret dari Asta Cita untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui kedaulatan pangan,” ujar AKBP Wahyu Sulistyo.
Baca juga : Ketegangan AS-Venezuela dan Peranan PBB
Guna memastikan keberlanjutan siklus produksi, agenda ini turut merangkaikan distribusi bantuan berupa bibit unggul dan pupuk kepada kelompok tani lokal. Intervensi berupa bantuan input pertanian ini dianggap krusial untuk menjaga motivasi petani sekaligus memitigasi risiko penurunan produktivitas pada musim tanam berikutnya.
Kolaborasi solid antara pemangku kebijakan, aparat keamanan, dan masyarakat agraris di Wonogiri diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan angka produksi secara kuantitatif, tetapi juga menciptakan ekosistem pertanian yang tangguh dan mandiri dalam menghadapi tantangan pangan global.
Pewarta: Nandang Bramantyo
