RI News Portal. Wonogiri, 5 Januari 2026 – Di tengah meningkatnya kerentanan terhadap bencana tanah longsor akibat degradasi lahan di wilayah pegunungan, sebuah inisiatif penghijauan kembali digelar di kawasan hutan lindung Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Kegiatan ini, yang berlangsung pada Minggu (4/1/2026), melibatkan penanaman sekitar 750 bibit pohon di area objek wisata religi Kahyangan, Dusun Bangunsari, Desa Dlepih.
Inisiatif tersebut diprakarsai oleh sebuah komunitas relawan lokal yang fokus pada aksi kemanusiaan dan lingkungan, dengan dukungan aktif dari berbagai pemangku kepentingan. Penanaman dilakukan di lahan kritis yang dikelola oleh instansi kehutanan negara, sebagai upaya restorasi ekosistem dan pengurangan risiko hidrometeorologi. Jenis pohon yang ditanam mencakup spesies keras seperti ringin dan trembesi untuk pengikatan tanah yang kuat, serta tanaman produktif seperti pete, jambu air, talok, rambutan, dan sirsak yang memberikan nilai ekonomi jangka panjang bagi masyarakat sekitar.
Sekitar 50 peserta turut serta, terdiri dari relawan masyarakat, personel dari badan penanggulangan bencana daerah, instansi kehutanan, aparat keamanan setempat, serta unsur militer. Kehadiran mereka mencerminkan kolaborasi lintas sektor yang esensial dalam pengelolaan lingkungan di daerah rawan bencana.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memulihkan tutupan vegetasi yang hilang akibat erosi dan aktivitas manusia, tetapi juga sebagai strategi preventif terhadap longsor. Wilayah Tirtomoyo dikenal sebagai salah satu zona paling vulnerabel di Wonogiri, dengan catatan historis kejadian longsor yang signifikan, terutama pada musim hujan. Penghijauan dengan akar dalam seperti yang dipilih diharapkan dapat meningkatkan stabilitas tanah, mengurangi limpasan air permukaan, dan pada akhirnya menurunkan frekuensi bencana.
Seorang perwakilan aparat keamanan daerah menyatakan komitmen institusinya dalam mendukung pelestarian lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab sosial. “Kegiatan seperti ini bukan sekadar menambah hijau kawasan, melainkan investasi preventif untuk mengantisipasi ancaman longsor di lereng-lereng rawan. Kami mendorong kolaborasi berkelanjutan antar elemen masyarakat guna menjaga keseimbangan ekologi,” ujarnya.
Baca juga : Polda Jateng Perpanjang Pengamanan Pasca-Operasi Lilin Candi 2025 dengan Strategi KRYD
Pendekatan serupa telah menjadi tren dalam mitigasi bencana di Jawa Tengah, di mana reboisasi lahan kritis dipandang sebagai solusi berbasis ekosistem yang lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan intervensi struktural semata. Dengan melibatkan komunitas lokal, program ini juga memperkuat kesadaran kolektif terhadap pentingnya konservasi, sekaligus memberikan manfaat ekonomi melalui tanaman multifungsi.
Upaya ini diharapkan menjadi model bagi wilayah lain di Wonogiri yang menghadapi tantangan serupa, mengingat sebagian besar kabupaten ini berada di zona perbukitan dengan tanah yang rentan erosi. Keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada pemeliharaan pasca-penanaman dan monitoring bersama.
Pewarta: Nandang Bramantyo

