RI News Portal. Jakarta 3 Januari 2026 – Di tengah maraknya produksi drama Korea Selatan yang menggabungkan elemen sejarah dengan narasi kontemporer, sebuah karya baru berjudul ‘To My Beloved Thief’ siap menyapa penonton dengan cerita yang kaya akan konflik internal dan kritik sosial. Serial ini, yang dijadwalkan tayang dalam waktu dekat, menawarkan perspektif segar pada dinamika kekuasaan dan identitas di era Joseon, di mana batas antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur akibat pertukaran jiwa yang tak terduga.
Cerita berpusat pada Hong Eun-jo, seorang wanita dari kalangan bangsawan yang menjalani kehidupan ganda. Sehari-hari, ia berprofesi sebagai tabib di lembaga kesehatan kerajaan, Hyeminseo, di mana dedikasinya terhadap penyembuhan mencerminkan komitmennya pada kesejahteraan masyarakat. Namun, di balik kegelapan malam, Eun-jo bertransformasi menjadi pencuri legendaris bernama Hong Gil-dong, yang dikenal luas karena aksinya merampok harta para pejabat korup untuk dibagikan kepada rakyat jelata. Latar belakangnya yang rumit—lahir dari ayah bangsawan dan ibu dari strata sosial rendah—menjadi katalisator bagi perjuangannya melawan ketidakadilan sistemik, mengingatkan pada tema Robin Hood dalam konteks budaya Korea tradisional.
Konflik utama muncul ketika Eun-jo bertemu dengan Yi Yeol, seorang pangeran kerajaan yang ditugaskan untuk memburu Gil-dong. Yi Yeol digambarkan sebagai sosok karismatik: tampan, bertubuh tinggi, dan memancarkan wibawa alami, meskipun ia sering terlihat santai dan acuh. Di balik fasad itu, Yeol memiliki hasrat mendalam untuk memecahkan kasus kejahatan dan melindungi rakyat, meski tindakannya kerap disalahartikan sebagai hobi semata. Pertemuan mereka berubah menjadi kisah rumit ketika keduanya secara misterius bertukar jiwa, memaksa Eun-jo menavigasi intrik istana sebagai pangeran, sementara Yeol harus beradaptasi dengan kehidupan rahasia sebagai pencuri. Elemen body swap ini tidak hanya menambah lapisan komedi, tetapi juga menjadi metafor mendalam untuk empati lintas kelas sosial dan gender, mengajak penonton merefleksikan bagaimana perspektif seseorang dapat berubah drastis ketika berada di posisi orang lain.

Dari sudut pandang akademis, serial ini menarik untuk dianalisis sebagai representasi evolusi genre sageuk, di mana elemen fantasi seperti pertukaran jiwa digunakan untuk mengkritik hierarki sosial Joseon. Penulis naskah, Lee Sun, tampaknya terinspirasi dari legenda Hong Gil-dong yang historis—seorang pemberontak abad ke-16 yang melambangkan perlawanan terhadap tirani—namun dengan twist modern yang menekankan peran perempuan sebagai agen perubahan. Sutradara Ham Young-geol, dikenal dengan pendekatan visual yang dinamis, diharapkan membawa nuansa sinematik yang memperkaya deskripsi era Joseon, dari kostum autentik hingga adegan aksi yang mendebarkan.
Pemeran utama semakin memperkuat daya tarik naratif ini. Nam Ji-hyun memerankan Hong Eun-jo dengan kedalaman emosional, menyoroti perjuangan internal antara tugas mulia dan identitas tersembunyi. Moon Sang-min sebagai Yi Yeol membawa karisma yang kontras, mengeksplorasi tema cinta terlarang di tengah kewajiban kerajaan. Han So-eun berperan sebagai Shin Hae-rim, putri bangsawan dengan rahasia romansa sendiri, sementara Hong Min-gi menjadi Im Jae-yi, saingan Yeol yang menambah ketegangan kompetitif. Karakter pendukung seperti Choi Won-young sebagai Im Sa-hyeong, ayah Jae-yi yang berpengaruh; Ha Seok-jin sebagai Raja Yeonsan, yang dikenal dengan pemerintahan kontroversialnya; Lee Seung-woo sebagai Daechu, pengawal setia Yeol; dan Song Ji-ho sebagai Hong Dae-il, kakak Eun-jo, semakin melengkapi ensemble yang beragam.
Baca juga : Kembalinya MONSTA X ke Indonesia: Tur Dunia yang Menguatkan Ikatan Budaya K-Pop
Secara keseluruhan, ‘To My Beloved Thief’ bukan sekadar hiburan romansa historis, melainkan sebuah narasi yang mengundang diskusi tentang keadilan, identitas, dan transformasi sosial. Dengan menggabungkan aksi, misteri, dan elemen supernatural, serial ini berpotensi menjadi kontribusi signifikan dalam kajian budaya populer Korea, di mana cerita masa lalu digunakan untuk merefleksikan isu kontemporer seperti ketimpangan sosial dan empati antarindividu. Penonton dapat menantikan bagaimana kisah ini mengurai benang merah antara cinta dan kewajiban, di tengah latar belakang kerajaan yang penuh intrik.
Pewarta : Vie

