RI News Portal. Bogor, 21 Desember 2025 – Dalam sebuah kegiatan yang menekankan pentingnya transmisi pengetahuan budaya kepada generasi mendatang, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti peran angklung sebagai simbol keragaman budaya Indonesia yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks penutupan lokakarya bertema “Warisan Hidup, Kreasi Berkelanjutan” yang berfokus pada seni bambu dan angklung.
Angklung, alat musik tradisional dari bambu yang berasal dari tradisi Sunda, tidak hanya mewakili kekayaan etnomusikologi Indonesia, tetapi juga telah mendapatkan pengakuan internasional sebagai Warisan Budaya Takbenda Humanity oleh UNESCO sejak 2010. Bersama dengan gamelan (diakui pada 2021) dan kolintang (baru-baru ini ditetapkan), angklung semakin mendunia, sering dimainkan dalam acara diplomasi budaya dan perayaan internasional. Hal ini mencerminkan bagaimana instrumen sederhana dari bambu mampu menjadi jembatan antarbudaya di panggung global.
Fadli Zon menekankan bahwa pembangunan ekosistem seni angklung sama krusialnya dengan upaya pelestarian berkelanjutan. Seni bambu, sebagai bagian integral dari khazanah budaya Sunda, memiliki potensi luar biasa jika dimanfaatkan secara optimal. Dalam perspektif akademis, bambu bukan sekadar material alam, melainkan elemen kearifan lokal yang multifungsi: dari penyimpan air dan pencegah longsor hingga medium pencatatan manuskrip kuno. Di masa lalu, bambu menjadi fondasi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, dan kini dapat diubah menjadi penggerak ekonomi kreatif melalui Cultural and Creative Industries (CCI).

Optimisme ini didasarkan pada analisis bahwa pengembangan seni bambu dapat menghasilkan nilai ekonomi tambah, mulai dari kerajinan tangan hingga pertunjukan musik yang inovatif. Dengan memadukan tradisi dan kreasi kontemporer, seni ini berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pariwisata budaya, dan memperkuat identitas nasional di era globalisasi.
Kegiatan lokakarya yang berlangsung pada 18-20 Desember 2025 ini melibatkan lebih dari seratus guru seni budaya dari wilayah Bogor. Para peserta tidak hanya menerima pembekalan teori, tetapi juga praktik langsung, termasuk pembuatan produk kerajinan bambu dan resital orkestra angklung. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat transmisi budaya melalui pendidikan formal dan nonformal.
Fadli Zon juga mengapresiasi dedikasi para pendidik dalam mewariskan ilmu seni kepada siswa, seraya berharap generasi muda mampu melahirkan inovasi baru tanpa melupakan akar pelestarian. Dalam konteks antropologi budaya, pendekatan ini selaras dengan prinsip keberlanjutan, di mana warisan takbenda seperti seni bambu tidak hanya dijaga sebagai relik masa lalu, melainkan dikembangkan sebagai sumber daya ekonomi dan sosial yang hidup.
Upaya semacam ini menegaskan komitmen pemerintah dalam memposisikan kebudayaan sebagai pilar pembangunan nasional, sekaligus berkontribusi pada dialog global tentang pelestarian warisan humanity di tengah tantangan modern.
Pewarta : Vie

