RI News Portal. Jakarta, 6 Januari 2026 – Film zombie biasanya identik dengan aksi lari-larian, darah berceceran, dan horde mayat hidup yang menyerang tanpa ampun. Namun, We Bury the Dead, yang baru saja rilis terbatas di bioskop Amerika Utara pada 2 Januari 2026, menawarkan pendekatan berbeda. Disutradarai dan ditulis oleh sineas Australia Zak Hilditch (dikenal lewat These Final Hours dan adaptasi Stephen King 1922), film ini lebih seperti drama duka cita yang diselingi elemen horror zombie, daripada film zombie murni.
Bintang utamanya adalah Daisy Ridley (Rey dari trilogi Star Wars terbaru), yang memerankan Ava, seorang wanita yang ditinggal suaminya, Mitch (Matt Whelan), setelah bencana militer mengerikan di Tasmania. Ledakan senjata eksperimental AS secara tidak sengaja memusnahkan ratusan ribu nyawa dan membuat sebagian mayat “bangkit kembali”. Ava bergabung dengan tim relawan penguburan mayat, berharap menemukan suaminya—atau setidaknya penutup atas kehilangannya. Di sana, ia bertemu Clay (Brenton Thwaites), seorang relawan cuek yang akhirnya membantunya memasuki zona terlarang.
Film ini kuat dalam eksplorasi tema grief (duka cita) dan proses melepaskan masa lalu. Zombie di sini bukan monster ganas seperti di The Walking Dead, melainkan metafor untuk kenangan yang tak mau “mati”. Beberapa adegan bahkan menunjukkan zombie yang masih punya sisa “kemanusiaan”, seperti satu momen mengharukan di mana mayat hidup menggali kuburnya sendiri. Hilditch berhasil menciptakan atmosfer melankolis dengan latar Tasmania yang luas dan sepi, didukung sinematografi indah yang menangkap rasa kesepian dan kehancuran.

Penampilan Daisy Ridley menjadi sorotan utama. Ia menyampaikan emosi Ava melalui ekspresi wajah dan tatapan mata, tanpa banyak dialog. Ridley membawa kerentanan sekaligus keteguhan yang membuat kita ikut bersimpati dalam pencarian tanpa harapannya. Brenton Thwaites juga solid sebagai pasangan yang awalnya acuh tapi perlahan menunjukkan sisi manusiawi.
Namun, film ini tidak sempurna. Tempo cerita agak lambat dan meditatif, yang mungkin membuat penonton yang mengharapkan aksi zombie intens kecewa. Zombie lebih sebagai latar belakang daripada ancaman utama, dan akhir cerita terasa liar serta terbuka—beberapa kritikus menyebutnya sebagai “setup” untuk sekuel potensial. Meski begitu, di Rotten Tomatoes, film ini mendapat rating tinggi 84% dari kritikus, dengan pujian atas pendekatan segar terhadap genre zombie yang sudah kelelahan.
We Bury the Dead berdurasi 95 menit, rating R (kekerasan kuat, gore, bahasa kasar, dan penggunaan narkoba singkat). Di akhir pekan pembukaan, film ini meraup $3 juta di AS—rekor tertinggi untuk distributor Vertical Entertainment.
Secara keseluruhan, ini adalah film zombie yang “berotak”, lebih menekankan emosi manusia daripada jumpscare murahan. Cocok untuk penonton yang suka horror psikologis seperti The Babadook atau Maggie.
Nilai: ★★★½ / 5 (Tiga setengah bintang). Jika Anda mencari sesuatu yang berbeda di genre zombie, film ini layak ditonton!
Pewarta : Vie

