RI News. Jakarta – Film terbaru garapan Maggie Gyllenhaal, The Bride!, yang tayang perdana di bioskop pada 6 Maret 2026, menjadi sorotan karena pendekatannya yang radikal terhadap kisah klasik horor gotik. Sebagai film kedua yang ditulis sekaligus disutradarai oleh aktris pemenang nominasi Oscar ini—setelah sukses The Lost Daughter pada 2021—karya tersebut mengambil inspirasi dari Bride of Frankenstein (1935), namun membalik perspektif sepenuhnya ke sosok pengantin yang selama ini hanya muncul sekilas.
Jessie Buckley memerankan tokoh utama, Ida—seorang perempuan yang dibunuh secara brutal di Chicago era 1930-an, kemudian dihidupkan kembali oleh ilmuwan eksentrik Dr. Euphronios (Annette Bening) untuk menjadi pasangan bagi makhluk ciptaan Frankenstein, yang di sini hanya disebut Frank dan diperankan Christian Bale. Berbeda dari versi asli di mana pengantin monster hanya tampil beberapa menit di akhir, Buckley menghadirkan karakter yang vokal, penuh kecerdasan, permainan kata, serta semangat emansipasi perempuan yang tak tertahankan.
Gyllenhaal menempatkan cerita di tahun 1930-an, sekitar satu abad setelah novel asli Mary Shelley ditulis, sehingga Frank digambarkan telah kesepian selama rentang waktu yang sangat panjang. Buckley juga memerankan Mary Shelley dalam prolog yang langsung berbicara kepada penonton, mengungkapkan bahwa ada pesan mendalam yang tak sempat ia sampaikan di zamannya—sebuah tumor ide yang akhirnya “dilahirkan” lewat film ini.

Elemen feminis menjadi inti narasi: Ida bukan sekadar pasangan pasif, melainkan korban patriarki yang bangkit sebagai figur pembalas dendam. Namun, Gyllenhaal tidak hanya ingin mengkritik; ia juga menyuntikkan humor, petualangan liar, dan penghormatan kepada sinema klasik. Pasangan Ida dan Frank menjalani kisah seperti pasangan buronan ala Bonnie and Clyde, sambil mampir ke bioskop-bioskop era itu—bahkan ada penampilan cameo kakak Maggie, Jake Gyllenhaal, sebagai bintang film favorit Frank. Christian Bale memerankan Frank dengan kelembutan mengejutkan: makhluk raksasa yang justru penyuka musikal dan lebih mirip “big softie” ketimbang monster menakutkan.
Peter Sarsgaard dan Penélope Cruz tampil sebagai detektif yang memburu mereka, menambah lapisan komentar tentang dinamika gender di dunia nyata. Salah satu puncak adegan adalah saat Frank memimpin tarian dan nyanyian “Puttin’ on the Ritz”—sebuah penghormatan terang-terangan pada Young Frankenstein (1974) karya Mel Brooks—yang menunjukkan betapa film ini berani bermain dengan nada beragam, dari horor gelap hingga komedi musikal.
Para kritikus memberikan respons beragam. Sebagian memuji ambisi Gyllenhaal yang berani mengambil risiko besar di film keduanya, menyebutnya sebagai “mimpi demam” yang penuh energi dan cinta pada perfilman. Namun, tak sedikit yang menilai film ini terlalu berantakan, berlebihan, dan sulit menyatukan berbagai elemennya menjadi satu kesatuan harmonis. Rating di situs agregator ulasan menunjukkan skor campuran, dengan pujian khusus tertuju pada penampilan Buckley yang dinilai luar biasa liar dan memukau.
Dengan durasi 126 menit dan rating R karena kekerasan berdarah, konten seksual, serta bahasa kasar, The Bride! tayang di bioskop nasional mulai akhir pekan ini. Film ini tak hanya menghidupkan kembali monster klasik, tapi juga mengajak penonton merenung: apa jadinya jika sang pengantin—bukan pencipta atau makhluknya—yang punya suara utama dalam cerita horor abadi ini?
Pewarta : Vie

