
RI News Portal. Jakarta 28 Agustus 2025 — Dalam era globalisasi di mana mobilitas tenaga kerja terampil semakin menjadi isu krusial bagi negara berkembang, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menyerukan kepada para mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Australia untuk memaksimalkan pengalaman belajar mereka dan kembali ke Tanah Air guna berkontribusi pada kemajuan bangsa. Pernyataan ini muncul di tengah perdebatan nasional tentang fenomena “brain drain” atau migrasi permanen talenta muda ke luar negeri, yang sering kali dipicu oleh slogan-slogan viral di media sosial.
Sjafrie menyampaikan pesan ini saat menghadiri jamuan makan malam bersama perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan komunitas mahasiswa Indonesia di Australia. “Kepada para mahasiswa, carilah ilmu setinggi-tingginya di Australia. Setelah kalian mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan sukses dalam pendidikan, kembalilah ke negaramu Indonesia,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers resmi Kementerian Pertahanan pada Kamis lalu.

Menurut Sjafrie, kebutuhan akan sumber daya manusia berkualitas tinggi semakin mendesak di tengah upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan di berbagai sektor. Ia menekankan bahwa generasi muda dengan latar belakang pendidikan unggul dapat menjadi katalisator inovasi, terutama dalam konteks pertahanan nasional dan pembangunan ekonomi. “Pemerintah membutuhkan kehadiran banyak anak muda untuk memajukan Indonesia dari beragam sektor,” tambahnya, seraya menggarisbawahi peran mereka dalam menciptakan terobosan yang mendukung kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pernyataan Menhan ini tidak lepas dari kesadaran akan tren sosial yang marak belakangan ini. Di platform media sosial, slogan-slogan seperti “kabur ke luar negeri” sering kali menjadi viral, mencerminkan frustrasi generasi muda terhadap tantangan domestik seperti kesempatan kerja, korupsi, dan ketidakadilan sosial. Sjafrie secara eksplisit mengimbau agar para mahasiswa di Australia tidak terpengaruh oleh narasi tersebut. “Terapkan apa yang telah kalian dapatkan di luar negeri untuk membangun bangsa kita,” tegasnya, menekankan pentingnya “brain circulation” – di mana ilmu yang diperoleh di luar negeri dikembalikan untuk memperkaya ekosistem nasional.
Baca juga : Maraknya Disinformasi Ancam Ruang Publik Digital, Pemerintah Didorong Bertindak Tegas
Dari perspektif akademis, seruan ini selaras dengan diskursus global tentang diaspora dan pembangunan. Studi-studi dari lembaga seperti World Bank dan UNESCO menunjukkan bahwa negara-negara seperti Indonesia dapat mengubah potensi brain drain menjadi brain gain melalui kebijakan insentif repatriasi, seperti program beasiswa dengan ikatan dinas atau dukungan riset bagi returnees. Namun, tantangannya tetap ada: survei di kalangan diaspora Indonesia sering mengungkap kekhawatiran atas birokrasi yang lamban dan kurangnya infrastruktur penelitian di Tanah Air.
Kunjungan Sjafrie ke Australia sendiri bertujuan lebih luas, yakni memperkuat hubungan bilateral di bidang pertahanan. Ia dijadwalkan bertemu dengan Menteri Pertahanan Australia untuk membahas berbagai kerja sama, termasuk peningkatan kapabilitas militer kedua negara melalui latihan bersama, pertukaran teknologi, dan kolaborasi intelijen. Agenda ini menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk memperkuat posisinya di kawasan Indo-Pasifik, di mana Australia menjadi mitra strategis utama.
Pesan Menhan ini diharapkan dapat menginspirasi tidak hanya mahasiswa di Australia, tetapi juga diaspora Indonesia di seluruh dunia. Dengan lebih dari 10.000 mahasiswa Indonesia yang tersebar di berbagai universitas Australia – termasuk University of Melbourne dan Australian National University – potensi kontribusi mereka terhadap pembangunan nasional sangatlah besar. Namun, keberhasilan seruan ini akan bergantung pada komitmen pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para pemulang, sehingga slogan “pulang bangun negeri” bukan sekadar retorika, melainkan realitas yang menarik.
Pewarta : Yudha Purnama
