RI News. Jakarta – Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri kembali menegaskan pentingnya kesadaran diri pengemudi dalam mengenali batas kelelahan fisik. Kompol Sandhi Wiedyanoe, Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri, menyampaikan imbauan tegas agar pemudik tidak memaksakan diri melanjutkan perjalanan ketika tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Dalam konferensi pers persiapan mudik yang digelar bersama BPJS Kesehatan di Jakarta pada Senin (10/3/2026), Sandhi menekankan pendekatan preventif yang lebih fleksibel: “Jika sudah merasa capek atau mengantuk, segera menepi ke bahu kiri jalan. Tidak perlu menunggu hingga mencapai rest area.” Imbauan ini bertolak dari pengamatan bahwa banyak kecelakaan fatal bermula dari penundaan istirahat akibat keyakinan bahwa fasilitas resmi baru layak digunakan.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, Korlantas Polri telah menyiapkan tim patroli khusus yang bergerak perlahan di sepanjang koridor mudik utama. Tim ini melibatkan personel kepolisian, unit ambulans dari tenaga medis, serta kendaraan derek, dengan tugas utama mengantisipasi potensi kecelakaan berat dan gangguan arus lalu lintas. Kehadiran tim patroli ini dirancang untuk memberikan rasa aman bagi pengemudi yang terpaksa berhenti mendadak. “Kendaraan patroli akan mengawal dari belakang dengan rotator menyala, sehingga pengemudi tidak perlu khawatir saat menepi,” jelas Sandhi.

Strategi ini dilengkapi dengan pengelolaan rest area yang lebih disiplin. Polri akan menyosialisasikan batas waktu penggunaan fasilitas istirahat agar terjadi rotasi pengguna dan menghindari penumpukan kendaraan. Sandhi mengambil pelajaran dari pengalaman tahun 2019 saat bertugas di Jawa Tengah, di mana rest area KM 429 sempat menjadi titik kemacetan parah sebelum adanya penambahan fasilitas di KM 456–459. “Kepadatan itu menjadi bukti bahwa tanpa pengaturan waktu, fasilitas justru memicu masalah baru,” ujarnya.
Data analisis kecelakaan tiga tahun terakhir (2023–2025) menunjukkan pola yang konsisten: Jawa Tengah menjadi wilayah dengan insiden tertinggi selama periode mudik. Sandhi menyebut provinsi ini sebagai “titik lelah” utama, di mana faktor fatigue pengemudi sering berpadu dengan kondisi jalan arteri yang padat. Kondisi fisik prima, menurutnya, tetap menjadi fondasi keselamatan. Cara menjaganya beragam—mulai dari asupan vitamin dan suplemen, istirahat singkat, hingga mendengarkan musik—namun intinya adalah mempertahankan fokus dan konsentrasi penuh.
Sandhi juga mengingatkan agar pemudik menghindari pola pikir kompetitif di jalan raya. “Mudik bukan ajang adu cepat. Semakin terburu-buru dan memacu kecepatan tinggi, semakin besar risiko yang mengintai,” tegasnya. Pesan ini sejalan dengan komitmen Korlantas Polri untuk menjadikan mudik 2026 sebagai momentum keselamatan kolektif, di mana kesadaran individu menjadi elemen krusial dalam mengurangi angka korban jiwa.
Dengan pendekatan berbasis data, pengalaman lapangan, dan dukungan tim respons cepat, imbauan ini diharapkan dapat menekan potensi tragedi yang kerap muncul akibat kelelahan di tengah perjalanan panjang.
Pewarta: Yudha Purnama.

