RI News Portal. Wonogiri – Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, memiliki topografi perbukitan yang rentan terhadap bencana tanah longsor, terutama pada musim hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi geologis tanah labil di sejumlah kecamatan membuat volume air berlebih dari hujan deras dapat memicu pergerakan massa tanah secara mendadak, mengancam pemukiman penduduk.
Baru-baru ini, guyuran hujan yang berlangsung hampir sepanjang hari menyebabkan dua insiden longsor signifikan. Di Dusun Girimarto, Desa Girimarto, Kecamatan Girimarto—tepatnya RT 01/RW 01—massa tanah longsor menimpa rumah milik seorang warga bernama Partiyem. Kejadian serupa melanda Lingkungan Kecik, RT 02/RW 09, Kelurahan Karang, Kecamatan Slogohimo, di mana rumah milik Ishartanto (64 tahun) turut menjadi korban. Kedua lokasi ini menggambarkan pola kerentanan klasik di wilayah berlereng, di mana saturasi air tanah melemahkan daya dukung lereng.
Respons cepat datang dari aparat kewilayahan. Personel Koramil setempat, bersama tim gabungan dan partisipasi aktif masyarakat, melaksanakan kerja bhakti untuk membersihkan material longsor. Upaya ini tidak hanya bertujuan memulihkan akses dan membersihkan reruntuhan, tetapi juga memberikan rasa aman bagi warga yang terdampak.

Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihuan, Komandan Kodim 0728/Wonogiri, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kinerja anggotanya, khususnya Babinsa yang berada di garis terdepan. Dalam pernyataannya pada 14 Januari 2026, beliau menekankan bahwa kehadiran Babinsa di tengah masyarakat saat bencana sangat krusial. “Saat terjadi bencana, kepanikan sering kali muncul. Kehadiran Babinsa membantu mengarahkan warga untuk mengutamakan keselamatan diri, keluarga, serta penyelamatan dokumen dan barang berharga,” ujarnya.
Beliau lebih lanjut menggarisbawahi karakteristik wilayah teritorial Wonogiri yang rawan longsor, sehingga memerlukan kesiapsiagaan ekstra dari Babinsa. Monitoring aktif selama hujan lebat menjadi langkah antisipatif penting untuk mengurangi risiko. Apresiasi juga disampaikan atas kerja bhakti Koramil di kedua lokasi terdampak, yang mencerminkan sinergi antara institusi militer dan masyarakat sipil dalam manajemen bencana.
Baca juga : Kompensasi Penutupan Tambang: Pemprov Jabar Respons Cepat Pasca-Demo Warga Bogor Barat
Kasus ini memperkuat argumen bahwa mitigasi bencana di daerah rawan memerlukan pendekatan berlapis, mulai dari pemantauan dini hingga respons komunitas. Peran aparat kewilayahan seperti Babinsa tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif dalam membangun resiliensi masyarakat terhadap ancaman hidrometeorologi yang semakin sering akibat perubahan iklim.
Pewarta: Nandar Suyadi

