RI News Portal. Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggenjot daya tarik wilayahnya sebagai tujuan investasi asing, dengan memperdalam kemitraan strategis bersama Jepang. Langkah ini tidak hanya menyasar aliran modal baru, tetapi juga membuka jenjang karir lebih tinggi bagi tenaga kerja lokal di negeri Sakura.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, yang akrab disapa Gus Yasin, menyatakan komitmen penuh untuk mempermudah masuknya industri Jepang. “Kami berharap semakin banyak perusahaan Jepang yang berinvestasi di sini. Dukungan kami berupa kemudahan perizinan dan berbagai fasilitas akan diberikan secara maksimal,” ujarnya seusai menerima kunjungan kehormatan Gubernur Prefektur Kagawa, Ikeda Toyohito.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penguatan hubungan bilateral di dua ranah utama: investasi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Pemprov Jateng telah menyiapkan portofolio proyek prioritas yang siap menarik minat investor Jepang, meliputi sektor energi terbarukan, industri manufaktur berteknologi tinggi, kawasan pertanian terintegrasi, perikanan modern, serta pengembangan pariwisata ramah lingkungan.

Untuk mendukung iklim usaha yang kondusif, sistem perizinan berbasis risiko melalui Online Single Submission (OSS) terus disempurnakan agar prosesnya semakin cepat dan transparan. Berbagai insentif fiskal juga disediakan, termasuk pengurangan pajak berjangka waktu panjang (tax holiday), fasilitas pengurangan pajak (tax allowance), serta pembebasan bea masuk untuk impor mesin dan bahan baku industri.
Data terkini menunjukkan Jepang tetap menjadi salah satu mitra investasi terbesar di Jawa Tengah. Sepanjang periode 2021 hingga 2025, realisasi investasi dari Negeri Matahari Terbit mencapai Rp24,216 triliun, menempatkan Jepang di posisi ketiga investor terbesar. Penanaman modal tersebut tersebar di kawasan-kawasan kunci seperti Jepara, Batang, Kota Semarang, Pemalang, dan Kendal, dengan fokus utama pada sektor listrik-gas-air, tekstil dan garmen, otomotif, mesin-mesin presisi, serta elektronik.
Tak hanya soal modal, kolaborasi ini juga menyasar peningkatan kualitas tenaga kerja. Kerja sama penempatan pekerja migran asal Jawa Tengah ke Jepang terus ditingkatkan, bahkan naik kelas dengan program pelatihan khusus. Pihak Prefektur Kagawa menyatakan ketertarikan tinggi terhadap SDM Jateng, tidak sekadar sebagai pekerja biasa, melainkan dipersiapkan untuk menduduki posisi kepemimpinan seperti head manager di perusahaan-perusahaan Jepang.
“Kepercayaan ini menjadi bukti bahwa etos kerja dan kompetensi tenaga kerja kita semakin diakui secara global,” tambah Gus Yasin.
Setiap tahun, Jawa Tengah meluluskan sekitar 245 ribu siswa SMK dari berbagai jurusan strategis, mulai dari manufaktur, otomotif, konstruksi, pertanian modern, pariwisata, hingga perawatan lansia. Tren penempatan pekerja ke Jepang pun terus meningkat tajam: dari 3.760 orang pada 2024 menjadi 5.712 orang pada 2025, atau melonjak sekitar 52 persen.
Dari sisi Jepang, Gubernur Ikeda Toyohito menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi pekerja Indonesia, khususnya dari Jawa Tengah yang kini mencapai sekitar 4.000 orang di berbagai sektor industri di wilayahnya. Ia menegaskan komitmen memberikan lingkungan kerja yang aman dan nyaman, termasuk dukungan pendidikan bahasa Jepang sebelum keberangkatan.
“Kami berharap jumlah pekerja dari Jawa Tengah terus bertambah, seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi di sana,” kata Ikeda.
Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya mendongkrak pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah melalui investasi dan transfer teknologi, tetapi juga memberi dampak jangka panjang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peluang karir internasional yang lebih baik. Langkah ini menandai babak baru dalam hubungan Jawa Tengah-Jepang: dari sekadar mitra investasi menjadi mitra pengembangan talenta global.
Pewarta : Sriyanto


Pagi menjelang siang, Tanah datar hadir 🙏🙏🙏
hadir
Semangat pagi rekan jurnalis semua…🙏🙏🙏