RI News. Badung – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memastikan bahwa kualitas jaringan internet di Provinsi Bali selama Posko Bersama Ramadhan dan Idul Fitri (Rafi) 2026 secara konsisten melampaui rata-rata nasional. Hal tersebut disampaikannya saat meninjau langsung di Kabupaten Badung, Selasa (24/3/2026).
“Secara umum nasional frekuensi cukup baik dengan rata-rata kecepatan unduh 95 Mbps dan kecepatan unggah 42 Mbps, artinya cukup terjaga. Tapi khusus Bali itu kurang lebih rata-ratanya 105 Mbps, jadi di atas rata-rata nasional,” ujar Meutya.
Data ini diambil dari pemantauan intensif Posko Bersama Rafi 2026 yang berlangsung sejak 13 Maret hingga hari ini, 24 Maret. Puncak performa tercatat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, di mana kecepatan unduh menyentuh 250 Mbps. Menkomdigi pun menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh operator seluler yang bahu-membahu menjaga kestabilan konektivitas di tengah lonjakan trafik libur panjang dan arus Lebaran.

Secara keseluruhan di Bali, Kementerian Komdigi mencatat tingkat keberhasilan speed test tertinggi diraih Indosat dengan rasio 98,25 persen, diikuti Telkomsel 89,3 persen, dan XLSmart 58,99 persen. Meski demikian, pemantauan belum mencakup seluruh wilayah pulau. Tim Layanan Data dan Informasi Infrastruktur Digital masih akan terus mengoptimalkan pengukuran hingga penutupan posko pada 29 Maret mendatang.
“Jadi Insya Allah ini akan bekerja sampai tanggal 29, kami akan tutup di 29 Maret untuk menjaga kelancaran mudik yang aman bagi pemudik dan liburan masyarakat semua,” tegas Meutya.
Meski rata-rata unggul, Kementerian tidak menutup mata terhadap fluktuasi sementara. Penurunan performa sempat terjadi pada 14–17 Maret di kawasan Pelabuhan Gilimanuk akibat tingginya mobilitas penyeberangan. Tim kementerian langsung berkoordinasi dengan operator dan masalah tersebut cepat diatasi. Catatan lain muncul pada 18 Maret, tepat sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau Hari Pengerupukan, ketika aktivitas budaya masyarakat Bali meningkat tajam.
“Ada sedikit catatan seperti di tanggal 18 ada kegiatan budaya satu hari sebelum Nyepi, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah mungkin kita itu berdekatan antara Nyepi dengan Lebaran, betul-betul hanya beda satu-dua hari sehingga memang di tanggal 18 ada gangguan di beberapa titik,” jelas Menkomdigi.
Keunikan tahun ini, di mana dua hari besar keagamaan dan budaya—Nyepi dan Idul Fitri—hanya terpaut hitungan hari, menjadi ujian sekaligus pelajaran berharga bagi ketahanan infrastruktur digital nasional. Lonjakan aktivitas wisatawan dan pemudik di Bali tidak hanya menguji kapasitas jaringan, tetapi juga menunjukkan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk menjaga layanan publik tetap prima.

Di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Meutya juga melakukan pemeriksaan langsung terhadap frekuensi penerbangan. Sebanyak 500 posko serupa di seluruh Indonesia memang tidak hanya memantau internet, melainkan juga memastikan tidak ada interferensi yang mengganggu keselamatan penerbangan. “Tadi dilaporkan bahwa interferensi frekuensi tidak banyak, hanya gangguan di bawah 30 detik yang artinya tidak membahayakan penerbangan, jadi penerbangan aman tapi kami titip sampai tanggal 29 paling tidak dijaga terus,” tuturnya.
Dengan masih tersisa lima hari hingga penutupan posko, Kementerian Komdigi berkomitmen terus mengawal kestabilan sinyal di seluruh titik krusial Bali. Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa investasi infrastruktur digital mampu menjawab tantangan libur ganda yang semakin kompleks, sekaligus mendukung pariwisata dan mobilitas masyarakat tanpa hambatan berarti.
Pewarta : Vie

