RI News Portal. Wonogiri, 4 Januari 2026 – Dalam sebuah langkah konkret untuk mendukung keberlanjutan lingkungan, satuan militer setempat melalui Koramil 07/Tirtomoyo, Kodim 0728/Wonogiri, menyelenggarakan kegiatan penanaman massal sebanyak 1.000 bibit pohon buah di kawasan Objek Wisata Alam Kahyangan, Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo. Kegiatan ini melibatkan partisipasi aktif dari personel TNI, Polri, relawan, serta warga masyarakat sekitar, menunjukkan model kolaborasi lintas sektor yang potensial untuk direplikasi di wilayah lain.
Bibit yang ditanam terdiri atas varietas yang beragam, masing-masing 200 bibit pohon beringin, aren, jambu, sirsak, dan alpukat. Pemilihan jenis pohon ini tidak hanya bertujuan menghijaukan lahan, tetapi juga mempertimbangkan aspek ekologis dan ekonomi jangka panjang. Pohon beringin, misalnya, dikenal efektif dalam konservasi air tanah dan pencegahan erosi berkat sistem akarnya yang kuat, sementara pohon aren berkontribusi pada peningkatan kesuburan tanah melalui daunnya yang membentuk humus alami. Varietas buah seperti jambu, sirsak, dan alpukat memiliki kapasitas penyerapan karbon dioksida yang signifikan—alpukat hingga 200 kg CO₂ per pohon per tahun—sekaligus menyediakan sumber pangan bergizi dan potensi pendapatan bagi komunitas lokal melalui panen buah di masa depan.

Lokasi penanaman di Kahyangan dipilih secara strategis mengingat kawasan ini merupakan situs alam dengan nilai historis dan spiritual tinggi, dikelilingi bukit hijau serta mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi ekosistem sekitar. Penghijauan di area semacam ini dapat memperkuat fungsi resapan air, mengurangi risiko longsor di wilayah pegunungan Wonogiri, serta meningkatkan biodiversitas dengan menyediakan habitat bagi fauna lokal.
Melalui perwakilan Danramil Lettu Inf Agung Suwarno, Komandan Kodim 0728/Wonogiri Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihahuan menyampaikan bahwa inisiatif ini mencerminkan komitmen institusi militer dalam pembinaan lingkungan hidup. “Kegiatan semacam ini merupakan manifestasi nyata dari tanggung jawab bersama terhadap alam, yang diharapkan menjadi katalisator gerakan masyarakat lebih luas untuk menciptakan lingkungan yang resilien,” ujarnya. Ia juga menekankan peran krusial warga dalam pemeliharaan pasca-penanaman, mengingat keberhasilan jangka panjang bergantung pada pengawasan kolektif terhadap pertumbuhan bibit.
Dari perspektif lebih luas, kegiatan ini selaras dengan upaya nasional TNI AD dalam program pelestarian lingkungan, yang sering kali mengintegrasikan aksi penghijauan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Manfaat ganda—ekologis melalui mitigasi perubahan iklim dan pencegahan degradasi lahan, serta ekonomi melalui diversifikasi sumber penghidupan pedesaan—menjadikan pendekatan ini sebagai contoh inovatif dalam pembangunan berkelanjutan. Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks di Indonesia, kolaborasi seperti ini menawarkan harapan bahwa partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat dapat menghasilkan dampak positif yang berkesinambungan bagi generasi mendatang.
Pewarta: Nandar Suyadi.

