RI News. Gunungkidul — Sebuah kawasan pedesaan yang selama ini dikenal dengan tantangan akses pendidikan dan layanan kesehatan—kini menjadi sorotan setelah kisah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Fendi viral di berbagai platform daring. Fendi terpaksa meninggalkan bangku sekolah sejak tiga tahun lalu untuk merawat kedua orang tuanya, Bapak Slamet dan Ibu Aminah, yang mengalami kondisi kesehatan kronis—stroke disertai gangguan saraf mata pada sang ibu, serta keterbatasan fisik pada sang ayah.
Kabar ini memicu respons institusional yang relatif cepat. Pada Minggu, 15 Maret 2026, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P., bersama Kapolres Gunungkidul AKBP Damus Asa, S.H., S.I.K., M.H., memimpin kunjungan langsung ke kediaman keluarga tersebut dalam rangka kegiatan bakti sosial terpadu.
Kunjungan ini bukan sekadar simbolis. Bupati Endah Subekti secara tegas menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bergerak secara sinkron. Dari sisi pendidikan, koordinasi langsung dilakukan dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga serta Kantor Kementerian Agama setempat guna memetakan jalur kelanjutan pendidikan formal bagi Fendi—termasuk kemungkinan program kejar paket atau pendampingan khusus agar anak tersebut dapat kembali mengenyam pendidikan tanpa beban merawat orang tua menjadi penghalang mutlak.

Di bidang kesejahteraan sosial, meski keluarga telah terdaftar dalam Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), Bupati memerintahkan pendekatan “jemput bola”. Petugas pendamping sosial diwajibkan mendatangi rumah secara berkala mengingat mobilitas orang tua yang terbatas akibat sakit berkepanjangan. Langkah ini mencerminkan upaya mengatasi salah satu kendala klasik dalam penyaluran bantuan sosial di wilayah terpencil: aksesibilitas dan ketepatan sasaran.
Sementara itu, Kapolres AKBP Damus Asa menekankan peran Polri sebagai perpanjangan tangan negara dalam melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat rentan. Secara khusus, perhatian difokuskan pada aspek psikososial anak. Tim dari Polres Gunungkidul melaksanakan sesi trauma healing bagi Fendi untuk membangkitkan kembali semangat dan resiliensi psikologisnya setelah masa panjang menanggung beban emosional dan fisik di luar usianya.
“Kehadiran kami di tengah masyarakat bukan hanya formalitas, melainkan wujud komitmen negara terhadap individu yang berada dalam situasi kesulitan ekstrem,” ujar AKBP Damus Asa. Ia juga menambahkan bahwa tim dokter Polres akan menjadwalkan pemeriksaan kesehatan rutin bagi seluruh anggota keluarga, termasuk Fendi dan saudara-saudaranya.
Baca juga : Gubernur Ahmad Luthfi Tegas: Stop Praktik Korupsi, Pelayanan Publik Cilacap Tak Boleh Terganggu
Sebagai dukungan langsung, Polres Gunungkidul menyerahkan paket bantuan operasional berupa satu unit sepeda Polygon lengkap dengan perlengkapan pendukung (sepatu, tas sekolah, dan alat tulis), serta kebutuhan dasar rumah tangga seperti sembako, kasur, dan peralatan pendukung lainnya. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban mobilitas dan keseharian keluarga, sekaligus menjadi stimulus agar Fendi dapat kembali beraktivitas sebagai anak seusianya.
Kasus Fendi menyingkap lapisan masalah struktural yang lebih luas di daerah seperti Gunungkidul: tingginya angka putus sekolah akibat faktor ekonomi dan kesehatan keluarga, minimnya akses layanan rehabilitasi sosial, serta ketergantungan anak terhadap peran caregiving di rumah. Respons lintas sektor yang terkoordinasi ini—melibatkan pemerintah daerah, kepolisian, dan dinas terkait—dapat menjadi model bagi penanganan kasus serupa di masa depan, di mana kecepatan dan ketepatan intervensi menjadi kunci mencegah kerentanan berkepanjangan.
Kapolres juga mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melaporkan situasi sosial mendesak melalui layanan pengaduan 110 atau langsung ke Polsek terdekat, sebagai bagian dari upaya membangun sistem deteksi dini berbasis komunitas.
Kisah dari Jeruken ini, meski bermula dari kepedihan, kini membuka peluang bagi pemulihan dan harapan baru—bukan hanya bagi Fendi, tetapi juga bagi keluarga-keluarga lain yang menghadapi tantangan serupa di balik ketenangan pedesaan Gunungkidul.
Pewarta: Lee Anno

