RI News Portal. Denpasar – Di tengah gejolak harga bahan pokok yang dipicu musim hujan, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melakukan inspeksi mendalam di Pasar Badung, Denpasar, Bali, untuk memastikan efektivitas subsidi pemerintah daerah. Kunjungan ini, yang berlangsung pada Jumat lalu, menyoroti komitmen eksekutif nasional dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga masyarakat, khususnya di sektor pangan.
Sambil menelusuri lapak pedagang cabai, Gibran langsung bertanya, “Ini yang mana saja dapat subsidi?” Pertanyaan tersebut mencerminkan upaya wakil presiden untuk memverifikasi distribusi bantuan secara langsung, memastikan bahwa subsidi tidak hanya simbolis tetapi benar-benar menjangkau yang membutuhkan. Ia menekankan pentingnya subsidi sebagai instrumen utama untuk menjaga harga tetap terjangkau, terutama ketika inflasi tahunan di wilayah tersebut telah menyentuh angka 3,6 persen.

Respons positif datang dari Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara, yang menyampaikan apresiasi atas perhatian Gibran. Pemkot Denpasar memang telah menerapkan kebijakan subsidi responsif terhadap fluktuasi harga. Pada hari kunjungan tersebut, subsidi diberikan untuk cabai rawit dan cabai besar sebesar Rp3.000 per kilogram, sebagai langkah mitigasi terhadap lonjakan harga yang signifikan. “Ini memberikan subsidi dalam rangka menjaga inflasi yang sekarang tembus 3,6 persen secara tahunan, tapi yang diberikan subsidi Rp3.000 penurunan harga hanya di beberapa pos,” jelas Jaya Negara, menyoroti tantangan dalam mengendalikan inflasi secara komprehensif.
Direktur Utama Perumda Pasar Sewakadarma, Ida Bagus Kompyang Wiranata, menambahkan bahwa Gibran mendorong perluasan cakupan subsidi. Saat ini, subsidi hanya menjangkau rata-rata delapan pedagang per komoditas setiap hari, dengan fokus pada bahan pokok yang paling berpengaruh terhadap inflasi. Namun, wakil presiden menyarankan peningkatan kuantitas penerima untuk efek yang lebih luas. “Wapres sarankan kami melakukan subsidi untuk menekan inflasi tapi agar kuantitasnya diperbanyak, sedangkan kami hitung-hitung melakukan subsidi besar-besaran tentu akan menguras anggaran,” ujar Kompyang Wiranata.
Anggaran tahunan Perumda Pasar untuk subsidi mencapai Rp500 juta, yang dialokasikan secara selektif untuk menghindari pembengkakan biaya. Meski demikian, Kompyang menegaskan komitmen untuk menyesuaikan kebijakan berdasarkan saran wakil presiden: “Anggaran juga harus diperhitungkan tapi bagaimana pun juga atas saran Pak Wapres kami dari Perumda akan berupaya menambah jumlah pedagang yang kami berikan subsidi.”
Kenaikan harga cabai menjadi sorotan utama, dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengganggu rantai pasok. Harga cabai rawit melonjak dari Rp70.000 per kilogram menjadi Rp85.000, sementara cabai besar juga mengalami tekanan serupa. Tren serupa terlihat pada daging ayam, yang naik dari Rp36.000 menjadi Rp45.000 per kilogram dalam sepuluh hari terakhir—level tertinggi menurut para pedagang. Di sisi lain, komoditas seperti cabai merah besar (Rp35.000/kg), tomat (Rp12.000/kg), bawang merah dan putih (Rp35.000/kg), telur (Rp53.000/krat), serta daging sapi (Rp120.000/kg) tetap stabil, menunjukkan bahwa subsidi telah berhasil menahan gejolak di sebagian besar sektor.
Kunjungan ini tidak hanya menjadi momentum verifikasi lapangan, tetapi juga sinyal bagi pemerintah daerah untuk mengintegrasikan kebijakan subsidi dengan strategi pengendalian inflasi jangka panjang. Dengan pendekatan yang lebih inklusif, diharapkan stabilitas harga dapat terjaga, mendukung ketahanan ekonomi masyarakat Bali di tengah tantangan iklim dan pasokan.
Pewarta : Vie

