RI News. Moskow – Di tengah gejolak harga minyak dunia yang melonjak tajam akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, para menteri keuangan, menteri energi, dan gubernur bank sentral negara-negara G7 akan menggelar pertemuan khusus di Prancis pada Sabtu (30 Maret 2026). Pertemuan ini disebut-sebut sebagai yang pertama dalam kurun waktu 50 tahun, dengan agenda utama membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi.
Menteri Perdagangan Prancis Serge Papin menyatakan secara tegas bahwa isu pelepasan cadangan minyak strategis akan menjadi pembahasan inti dalam pertemuan tersebut. “Masalah pelepasan cadangan strategis akan dibahas di sana,” ujar Papin dalam wawancara di radio Europe 1, Kamis (26 Maret 2026).
Pernyataan Papin sejalan dengan sikap Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure, yang menekankan urgensi koordinasi antarnegara maju untuk merespons lonjakan harga energi. Prancis, sebagai tuan rumah presidensi G7 tahun ini, berperan sentral dalam mendorong dialog ini.

Latar belakang pertemuan ini adalah gangguan pasokan minyak global yang semakin parah sejak akhir Februari lalu. Serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap target-target di Iran memicu respons balasan dari Teheran, termasuk serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini telah merusak infrastruktur energi dan menyebabkan ratusan korban sipil serta militer di berbagai pihak.
Salah satu dampak paling signifikan adalah terganggunya lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini menjadi arteri utama ekspor minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar internasional. Hambatan di selat tersebut langsung memukul volume ekspor dan produksi minyak kawasan, sehingga mendorong harga minyak mentah Brent melampaui level $100 per barel dalam beberapa pekan terakhir.
Pada 11 Maret 2026, anggota Badan Energi Internasional (IEA) telah sepakat untuk melepaskan hingga 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka. Langkah kolektif terbesar dalam sejarah IEA ini dimaksudkan sebagai respons cepat terhadap gangguan pasokan akibat konflik. Namun, para analis menilai pelepasan tersebut bersifat sementara dan belum cukup untuk mengatasi ketidakpastian jangka panjang jika konflik berlarut-larut.
Baca juga : Mudik Lebaran 2026: Mobilitas Meningkat, Keselamatan Justru Membaik Berkat Sinergi dan Teknologi
Pertemuan G7 di Prancis diharapkan menjadi forum untuk mengevaluasi efektivitas langkah IEA sekaligus mempersiapkan opsi lebih lanjut, termasuk pelepasan cadangan nasional secara lebih masif jika diperlukan. Para menteri juga akan membahas dampak ekonomi yang lebih luas, seperti tekanan inflasi, gangguan rantai pasok global, dan risiko resesi di negara-negara importir minyak.
Sejumlah pengamat ekonomi internasional memandang pertemuan ini sebagai sinyal kuat bahwa negara-negara industri maju tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu, di mana kenaikan harga energi yang tak terkendali sempat memicu guncangan ekonomi parah. Namun, tantangan utama tetap pada koordinasi politik di tengah dinamika konflik yang masih berlangsung.
Pemerintah Prancis sendiri menegaskan bahwa segala keputusan akan diambil dengan prinsip kehati-hatian, mempertimbangkan tidak hanya stabilitas pasar energi, tetapi juga dampak kemanusiaan dan geopolitik yang lebih luas dari konflik di Timur Tengah.

Harga minyak yang terus berfluktuasi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap setiap perkembangan di lapangan. Para pelaku pasar kini menanti hasil pertemuan G7 akhir pekan ini sebagai penentu arah harga komoditas energi ke depan.
Dengan pertemuan bersejarah ini, G7 berupaya menunjukkan kepemimpinan kolektif dalam menghadapi salah satu krisis energi paling serius dalam beberapa dekade terakhir.
Pewarta : Anjar Wibisono

