RI News Portal. Jakarta 3 januari 2026 – Di tengah maraknya produksi film horor yang mengandalkan elemen supranatural konvensional, sebuah karya baru muncul dengan pendekatan yang lebih mendalam, menggabungkan nuansa psikologis dengan tradisi keagamaan lokal. Helroad Films, sebagai rumah produksi yang dikenal dengan proyek-proyek inovatif, memperkenalkan ‘Malam 3 Yasinan’, sebuah film yang menyoroti teror tersembunyi dalam dinamika keluarga besar kaya raya. Film ini tidak sekadar menyajikan ketakutan instan, melainkan menggali lapisan trauma masa lalu dan rahasia kelam yang terungkap melalui ritual yasinan, sebuah praktik doa Islam yang biasanya sakral namun di sini menjadi katalisator konflik batin.
Cerita berpusat pada keluarga Djoyodiredjo, sebuah dinasti pengusaha yang tampak sempurna dari luar, tetapi mulai terganggu oleh kejadian aneh setelah serangkaian yasinan untuk memperingati kematian anggota keluarga dilakukan secara berturut-turut. Alur narasi membangun ketegangan secara bertahap, di mana teror supranatural bukanlah musuh utama, melainkan cerminan dari dosa lama dan konflik internal yang lama terkubur. Pendekatan ini mengingatkan pada horor psikologis klasik, di mana elemen mistis berfungsi sebagai metafor untuk isu-isu sosial seperti warisan keluarga, relasi toksik, dan dampak trauma lintas generasi. Dalam konteks Indonesia, film ini secara halus mengkritik bagaimana ritual keagamaan yang seharusnya menyatukan justru bisa memicu pengungkapan kebenaran pahit, mencerminkan ketegangan antara tradisi dan modernitas di masyarakat urban.

Salah satu daya tarik utama terletak pada penampilan Shaloom Razade, yang memerankan dua karakter kembar: Sara dan Samira. Dengan kepribadian yang bertolak belakang—satu tenang dan introspektif, yang lain impulsif dan penuh rahasia—Razade menghadapi tantangan aktoral yang kompleks, menuntut pendalaman emosi untuk membedakan keduanya tanpa bergantung pada efek visual berlebih. Peran ganda ini tidak hanya menambah kedalaman narasi, tapi juga mengeksplorasi tema identitas ganda dan pengaruh lingkungan keluarga terhadap pembentukan diri, sebuah topik yang relevan dalam studi psikologi keluarga.
Turut memperkaya ensemble adalah Wulan Guritno, yang tidak hanya berakting tetapi juga terlibat sebagai produser dalam pengembangan cerita. Kehadirannya menambahkan lapisan autentisitas pada drama keluarga, di mana horor psikologis menyatu dengan elemen emosional seperti rasa bersalah dan pengkhianatan. Baim Wong, memerankan Ari, membawa konflik internal melalui karakternya yang terjebak dalam perselisihan relasi dan perebutan warisan, mencerminkan isu nyata di kalangan keluarga elit Indonesia. Aktor senior Piet Pagau sebagai Opa Hendra, figur patriarkal dengan pengaruh dominan tapi penuh sisi gelap, memberikan bobot historis pada narasi, sementara Hamish Daud sebagai Baskara—seorang perwira polisi yang terseret ke dalam pusaran mistis—menghadirkan dilema etis antara tugas profesional dan ikatan emosional, menambah dimensi investigatif pada cerita.
Disutradarai oleh Yannie Sukarya, yang dikenal dengan kemampuannya menyatukan elemen budaya lokal dengan genre modern, film ini diproduksi bersama Alkimia Production. Pendekatan sutradara dalam membangun atmosfer ketegangan melalui penggambaran rumah keluarga sebagai ruang claustrophobic—penuh rahasia dan bayangan—membedakan ‘Malam 3 Yasinan’ dari horor konvensional yang mengandalkan jumpscare. Secara akademis, karya ini bisa dilihat sebagai kontribusi pada diskursus horor Indonesia pasca-reformasi, di mana tema supranatural sering digunakan untuk mengkritik struktur sosial patriarkal dan dampak kolonialisme ekonomi pada keluarga tradisional.
Dengan durasi yang dirancang untuk membangun suspense secara organik, film ini menjanjikan pengalaman yang tidak hanya menakutkan tapi juga reflektif. ‘Malam 3 Yasinan’ dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 8 Januari 2026, menandai pembuka tahun bagi genre horor yang semakin matang dalam mengeksplorasi isu-isu mendalam.
Pewarta : Vie

