RI News. Mandailing Natal, 23 Februari 2026 – Di tengah kewajiban spiritual bulan puasa, Bupati Mandailing Natal (Madina) Saipullah Nasution menunjukkan komitmen langsung terhadap isu lingkungan dengan meninjau langsung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang sedang mengalami krisis aksesibilitas. Inspeksi ini mengungkap masalah kronis yang kerap muncul saat musim hujan, di mana jalan menuju lokasi TPA menjadi tidak dapat dilalui oleh kendaraan pengangkut sampah, memaksa petugas membuang muatan di pinggir jalan. Langkah bupati ini tidak hanya simbolis, tetapi juga memicu instruksi konkret untuk penyelesaian cepat, sambil merencanakan solusi jangka panjang yang inovatif.
Dalam kunjungan pada Minggu (22/2/2026), bupati beserta rombongan pejabat daerah memilih untuk berjalan kaki melintasi tumpukan sampah yang menumpuk di sepanjang akses TPA. Pengalaman langsung ini memungkinkan mereka menyaksikan secara nyata kondisi yang memburuk akibat longsor material yang menimbun badan jalan, dipicu oleh curah hujan tinggi pada akhir November 2025. “Kita lihat sendiri di sisi kanan dan kiri sepanjang jalan sudah dipenuhi oleh tumpukan sampah,” ujar Bupati Saipullah Nasution, menekankan urgensi tindakan. Ia segera memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup untuk mengerahkan alat berat, dibantu oleh peralatan dari Dinas Pekerjaan Umum serta bantuan dari perusahaan swasta setempat, PT SMGP. Targetnya ambisius: menyelesaikan perbaikan dalam satu minggu, dengan mobilisasi empat hingga lima alat berat mulai hari itu juga.

Masalah ini bukan sekadar insiden musiman, melainkan mencerminkan tantangan struktural dalam pengelolaan limbah padat di daerah pedesaan Indonesia, di mana infrastruktur TPA sering kali rentan terhadap faktor alam seperti hujan deras dan longsor. Dampaknya tidak hanya pada penumpukan sampah yang mengganggu estetika dan kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi mencemari lingkungan sekitar melalui pencemaran air tanah dan udara. Kunjungan bupati ini, meskipun dilakukan di bawah kondisi puasa yang menuntut ketahanan fisik, menjadi contoh kepemimpinan yang proaktif, menggabungkan empati dengan kebijakan cepat tanggap.
Lebih jauh, bupati menguraikan visi jangka panjang untuk mengatasi akar masalah sampah dari hulu hingga hilir. Salah satu inisiatif utama adalah peluncuran program Bank Sampah, yang dirancang untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pemilahan limbah. “Di rumah tangga, rencana programnya adalah bank sampah. Kami akan buatkan dulu proposalnya, rencana kerjanya, setelah itu kami minta kepada camat dan kepala desa untuk melaksanakannya, yaitu membuat bak-bak sampah yang memisahkan antara organik sama non-organik,” jelasnya. Program ini diharapkan tidak hanya mengurangi volume sampah yang mencapai TPA, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi melalui daur ulang, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang semakin relevan di konteks pembangunan berkelanjutan.
Baca juga : Operasi Malam Buta: Polisi Gagalkan Sarang Sabu di Perumahan Padang Lawas Utara
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Madina berencana memperluas lahan TPA dengan dukungan dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). Langkah ini dianggap krusial untuk mengakomodasi pertumbuhan populasi dan produksi sampah, sambil memastikan fasilitas yang lebih tahan terhadap risiko alam. Pendekatan ini mengintegrasikan elemen kolaboratif antara pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat, yang bisa menjadi model bagi kabupaten lain di Sumatra Utara dalam menghadapi isu serupa.
Inspeksi ini menandai momentum penting bagi Madina dalam mereformasi sistem pengelolaan sampahnya, di mana kepemimpinan langsung bupati menjadi katalisator perubahan. Dengan kombinasi tindakan darurat dan strategi preventif, diharapkan TPA tidak lagi menjadi sumber masalah kronis, melainkan aset yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Pewarta: Adi Tanjoeng.

