RI News Portal. Kebumen, 30 Desember 2025 – Dalam upaya memperkuat pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan, Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kebumen telah melaksanakan penyerahan imbalan kerja berupa premi kepada sejumlah warga binaan yang aktif terlibat dalam program produksi jaring cocomesh. Kegiatan ini dilakukan pada Selasa (30/12/2025), sebagai wujud nyata pemenuhan hak atas hasil kerja sebagaimana diamanatkan dalam kerangka hukum pemasyarakatan nasional.
Jaring cocomesh, yang terbuat dari serat sabut kelapa alami, merupakan produk ramah lingkungan yang berfungsi sebagai material pengendali erosi tanah, stabilisasi lereng, dan pendukung revegetasi lahan kritis. Program produksi ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis bagi warga binaan, tetapi juga menghasilkan barang bernilai ekonomi tinggi yang telah menjangkau pasar domestik—termasuk proyek infrastruktur nasional—hingga ekspor internasional.
Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menekankan bahwa inisiatif ini selaras dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan. Regulasi tersebut secara eksplisit mengakui hak warga binaan untuk menerima imbalan atas kontribusi kerja mereka selama menjalani pidana. “Premi ini mencerminkan pengakuan atas dedikasi, disiplin, dan produktivitas warga binaan dalam program kemandirian. Kami mengharapkan hal ini menjadi pendorong bagi mereka untuk terus mengembangkan potensi diri, sehingga siap reintegrasi sosial pasca-pembebasan,” ungkap Pramu Sapta.

Penyaluran premi dilakukan melalui mekanisme saldo uang elektronik pada kartu dompet digital, yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus menjaga prinsip transparansi dan keamanan dalam pengelolaan hak warga binaan. Pendekatan ini mencerminkan evolusi sistem pemasyarakatan menuju model yang lebih modern dan berbasis teknologi.
Salah seorang penerima premi, yang bernama Doni, menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan tersebut. “Program ini memberikan dampak positif yang signifikan, baik dari segi keterampilan maupun motivasi pribadi. Saya semakin bersemangat untuk berkontribusi, dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran rutan atas dukungan yang diberikan,” tutur Doni.
Dari perspektif akademis, inisiatif semacam ini dapat dipandang sebagai implementasi konsep reintegrasi sosial dalam pemasyarakatan kontemporer. Pembekalan keterampilan vokasional berbasis sumber daya lokal—seperti pengolahan sabut kelapa menjadi cocomesh—tidak hanya memenuhi aspek ekonomi, tetapi juga mendukung pembangunan berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan biodegradable yang mendukung konservasi lingkungan. Keberhasilan program ini terlihat dari capaian produksi yang mampu bersaing di pasar global, sekaligus memberikan nilai terapeutik bagi warga binaan melalui rasa pencapaian dan tanggung jawab.
Ke depan, Rutan Kelas IIB Kebumen menyatakan komitmen untuk memperluas dan menyempurnakan program pembinaan serupa, dengan fokus pada peningkatan kualitas keterampilan serta perluasan apresiasi bagi partisipan berprestasi. Langkah ini diharapkan menjadi model bagi institusi pemasyarakatan lain dalam mewujudkan tujuan utama sistem: transformasi individu menuju masyarakat yang lebih produktif dan harmonis.
Pewarta: Tur Hartoto

