RI News. Kediri, Minggu 8 November 2026 – Kehadiran film Piye To Kih? di industri perfilman nasional membawa warna tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Kediri. Film yang memadukan drama, komedi, dan unsur supernatural ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menjadi bukti bahwa kreativitas anak daerah berpeluang besar menembus industri film layar lebar.
Hal itu tampak dalam kegiatan home premiere Piye To Kih? yang digelar di XXI Ramayana Mall, Kota Kediri, Jumat (6/11/2026). Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati hadir dan menyaksikan langsung pemutaran film tersebut sebelum dijadwalkan tayang serentak di bioskop pada 19 November 2026.
Perempuan yang akrab disapa Mbak Wali itu mengaku terhibur oleh alur cerita yang disuguhkan. Ia menilai perpaduan horor dan komedi menjadi daya tarik utama karena mampu menghadirkan ketegangan sekaligus mengundang tawa penonton.
Selain unsur hiburan, film ini dinilai unik dari sisi pengemasan cerita. Kehidupan sehari-hari masyarakat yang disampaikan dalam bahasa Jawa menciptakan kedekatan emosional dengan penonton.

“Jarang sekali ada film yang menceritakan kehidupan sehari-hari dengan bahasa Jawa. Kreatif banget sih,” ujar Mbak Wali.
Menurutnya, penggunaan bahasa daerah dalam karya film patut diapresiasi sebagai bentuk kreativitas. Film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan identitas, kebiasaan, dan budaya masyarakat kepada khalayak yang lebih luas.
Di tengah industri hiburan yang kian kompetitif, keberanian mengangkat cerita lokal justru dapat menjadi keunggulan. Cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat memiliki kekuatan membangun karakter karya sekaligus menghadirkan pengalaman berbeda bagi penonton.
Mbak Wali juga menyambut positif kepercayaan yang diberikan kepada Kota Kediri sebagai lokasi home premiere. Ia menilai kegiatan perfilman yang menghadirkan pelaku industri kreatif ke daerah dapat menjadi momentum memperkenalkan potensi kota sekaligus memperluas ruang kolaborasi.
Dari sudut pandang ekonomi, kegiatan semacam ini berpotensi menggerakkan berbagai sektor pendukung, mulai dari pusat perbelanjaan, usaha kuliner, dan jasa, hingga sektor ekonomi kreatif lainnya. Industri kreatif sendiri dipandang sebagai sektor dengan peluang besar untuk dikembangkan. Film, musik, konten digital, fotografi, dan berbagai produksi kreatif lain menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan kemampuan sekaligus menciptakan peluang ekonomi.
Apresiasi khusus disampaikan Mbak Wali kepada para pemain dan kreator Woko Channel yang terlibat dalam produksi film ini. Perjalanan kreator lokal yang sebelumnya dikenal lewat ruang digital hingga terlibat dalam produksi film layar lebar dinilainya sebagai pencapaian yang dapat memotivasi anak muda.
Keberhasilan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa karya yang berangkat dari daerah tetap berpeluang berkembang bila didukung kreativitas, konsistensi, keberanian berinovasi, dan kemauan untuk terus belajar.
“Saya berharap perjalanan dari kreator Woko Channel ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya yang ada di Kota Kediri,” ungkapnya.
Mbak Wali menegaskan bahwa generasi muda tidak semestinya hanya menjadi penikmat perkembangan industri kreatif. Mereka perlu berani menjadi pencipta karya, membangun komunitas, mengembangkan ide, dan memanfaatkan beragam kanal digital untuk memperkenalkan potensi yang dimiliki.
Ia menambahkan, kemajuan teknologi telah membuka kesempatan yang semakin luas bagi siapa pun untuk berkarya. Namun peluang itu perlu diimbangi kreativitas, kualitas, dan konsistensi agar karya mampu bersaing dan bernilai ekonomi.
Pemerintah Kota Kediri berharap semakin banyak talenta lokal berani menunjukkan kemampuan dan mengambil bagian dalam industri kreatif. Dukungan terhadap seni dan perfilman diharapkan menjadi salah satu upaya membangun ekosistem kreatif yang lebih terbuka, produktif, dan berkelanjutan.
Keberadaan kreator lokal seperti Woko Channel menjadi contoh bahwa potensi daerah dapat tumbuh melalui banyak jalur. Sebuah karya tidak harus selalu lahir dari industri besar; ia bisa berkembang dari lingkungan masyarakat dan komunitas, lalu menjangkau pasar yang lebih luas.
Karena itu, home premiere Piye To Kih? diharapkan tidak berhenti sebagai agenda pemutaran film semata, melainkan menjadi pemantik semangat generasi muda untuk terus berkarya dan menjadikan kreativitas sebagai kekuatan pembangunan daerah.
“Saya harap ekonomi kreatif di Kota Kediri ini terus tumbuh. Semoga masyarakat terhibur dengan film ini. Dan dari Kota Kediri lahir film-film yang luar biasa,” pungkasnya.
Di akhir kegiatan, Mbak Wali mengajak masyarakat menyaksikan Piye To Kih? saat mulai tayang di bioskop pada 19 November 2026.
Bagi Kota Kediri, keterlibatan kreator lokal dalam produksi film layar lebar menjadi sinyal positif bahwa potensi anak daerah patut terus dikembangkan. Dengan dukungan berbagai pihak, bukan tidak mungkin semakin banyak karya dari Kediri dikenal luas dan mampu bersaing di industri kreatif nasional.
Pewarta: Alex Franico
Tagline: #PiyeToKih, #KotaKediri, #EkonomiKreatif, #FilmLokal, #BahasaJawa, #WokoChannel, #GenerasiMuda, #HomePremiere,

