RI News, Kediri, Jawa Timur, 16 Oktober 2026 – Sekitar 2.000 siswa SMK Kartanegara Wates, Kabupaten Kediri, mengubah halaman sekolah menjadi ruang belajar terbuka lewat kegiatan Masak Besar pada Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini digelar untuk memperingati Hari Murid Sedunia 2026 dan memadukan semangat kebersamaan dengan pengenalan keterampilan kuliner. Para siswa juga diajak melihat peluang karier di industri makanan dan minuman.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi SMK Kartanegara Wates bersama Indonesia Chef Association (ICA) Kediri Raya dan PT Berkah Langgeng Kencana (BLK) Arsy Gas Indonesia. Peserta diperkenalkan pada proses pengolahan makanan melalui pembuatan dua menu, yaitu ayam asap (smoked chicken) dan nasi goreng Hong Kong, dengan target produksi 2.000 porsi.
Kepala SMK Kartanegara Wates, Pujiono, S.Pd., menilai kegiatan ini lebih dari sekadar memasak dalam jumlah besar. Menurutnya, siswa belajar langsung mulai dari menyiapkan bahan, memahami tahapan pengolahan, hingga pentingnya koordinasi dan pembagian tugas. Pengalaman itu memberi gambaran bahwa keterampilan memasak menuntut pengetahuan, kedisiplinan, ketelitian, dan kemampuan bekerja sama.

Suasana kegiatan juga membuka wawasan siswa bahwa dunia kuliner memiliki cakupan luas. Memasak tidak hanya soal menghasilkan hidangan lezat, tetapi juga menyangkut kreativitas, standar kebersihan, efisiensi kerja, konsistensi rasa, dan kemampuan menyajikan makanan berkualitas.
Salah satu catatan penting dari kegiatan ini adalah tingginya ketertarikan siswa pada bidang kuliner. Lebih dari 170 siswa tercatat berminat mengikuti ekstrakurikuler tata boga.
Angka tersebut menjadi indikasi awal adanya keinginan siswa mengembangkan keterampilan di luar kompetensi yang selama ini mereka pelajari. Bagi sekolah, minat ini dapat menjadi pertimbangan dalam merancang program pengembangan keterampilan kuliner yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Dalam konteks pendidikan kejuruan, ketertarikan siswa merupakan modal penting untuk membangun pembelajaran yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan generasi muda. Kegiatan ekstrakurikuler memberi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi kemampuan, mengasah kreativitas, dan mengenali bidang pekerjaan yang mungkin mereka tekuni kelak.
Baca juga : Sepiring Nasi di Sela Penantian: Jumat Berkah Hangatkan Hari Para Pekerja Jalanan Padangsidimpuan
Bila dikembangkan secara konsisten, tata boga berpotensi menjadi wadah mempelajari teknik memasak, pengolahan bahan pangan, penyajian hidangan, pengelolaan dapur, hingga dasar-dasar kewirausahaan di bidang makanan. Keterampilan itu bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari, juga menjadi bekal memasuki dunia kerja atau merintis usaha mandiri.
Keterlibatan ICA Kediri Raya dan PT BLK Arsy Gas Indonesia memberi nilai tambah bagi pelaksanaan kegiatan. Kolaborasi antara sekolah, organisasi profesi, dan perusahaan memperkaya pengalaman belajar karena siswa berinteraksi langsung dengan pihak yang bergerak di dunia kuliner dan industri, sesuatu yang tidak selalu didapat di ruang kelas.
Dunia kuliner profesional menuntut lebih dari kemampuan mengolah bahan. Pekerja di bidang ini perlu memahami standar operasional, menjaga kebersihan dan keamanan pangan, mengatur waktu, mengendalikan penggunaan bahan, serta bekerja efektif dalam tim.
Target ribuan porsi dalam satu kegiatan juga menunjukkan pentingnya perencanaan dan koordinasi. Pengolahan makanan skala besar membutuhkan pengaturan proses yang cermat agar pekerjaan terstruktur dan mutu hasil tetap terjaga. Pengalaman ini dapat menjadi pengantar bagi siswa untuk memahami tantangan di restoran, hotel, katering, usaha makanan, maupun bidang pengolahan pangan lainnya.

Kolaborasi tersebut tidak berhenti pada pengenalan keterampilan memasak. Siswa juga berkesempatan mengenal dunia kerja melalui program magang di perusahaan.
Magang memiliki peran penting dalam pendidikan kejuruan karena menghubungkan pengetahuan yang dipelajari dengan praktik di lingkungan kerja. Melalui pengalaman itu, siswa dapat mengenali budaya kerja profesional, memahami tanggung jawab, serta membangun kedisiplinan dan kemampuan berkomunikasi. Mereka juga dapat memahami bahwa kebutuhan tenaga kerja terus berkembang, sehingga keterampilan teknis perlu diimbangi kemampuan beradaptasi, memecahkan masalah, dan bersikap profesional.
Bagi siswa yang tertarik pada kuliner, mengenal lingkungan industri bisa menjadi langkah awal menentukan arah pengembangan diri. Bagi siswa lain, pengalaman ini memperluas pemahaman tentang hubungan antara keterampilan praktis dan kebutuhan dunia usaha.
Agar manfaatnya optimal, program magang idealnya dilengkapi pembimbingan, target kompetensi yang jelas, dan evaluasi perkembangan kemampuan peserta. Dengan begitu, pengalaman kerja menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan lulusan menghadapi dunia profesional.
Di tengah perkembangan industri makanan dan minuman, keterampilan kuliner berpotensi menjadi pilihan kompetensi yang relevan bagi generasi muda. Peluangnya tidak terbatas pada profesi juru masak atau koki, tetapi juga mencakup pengelola katering, tenaga produksi makanan, pengusaha kuliner, pengembang produk pangan, hingga pelaku usaha makanan berbasis digital.
Untuk meraih peluang itu, keterampilan perlu dibangun melalui pembelajaran terstruktur. Siswa membutuhkan kesempatan berlatih secara konsisten, pendampingan dari tenaga yang kompeten, dan pemahaman tentang standar industri.
Bagi SMK Kartanegara Wates, besarnya minat terhadap ekstrakurikuler tata boga dapat menjadi pintu masuk untuk mempertimbangkan pengembangan kegiatan kuliner secara lebih serius, misalnya lewat kelas praktik, pelatihan berkala, pendampingan profesional, proyek kewirausahaan siswa, dan penjajakan kerja sama dengan dunia usaha. Jika minat itu diikuti program yang tepat, siswa mendapat ruang mengembangkan bakat, sekolah memiliki alternatif penguatan kompetensi, dan mitra industri ikut menyiapkan generasi muda yang mengenal kebutuhan dunia kerja.

Meski demikian, menjadikan tata boga sebagai kompetensi keahlian tersendiri memerlukan kajian lebih lanjut, mencakup pemetaan minat siswa, kesiapan tenaga pengajar, fasilitas praktik, kurikulum, dan kebutuhan industri.
Peringatan Hari Murid Sedunia 2026 lewat Masak Besar di SMK Kartanegara Wates menunjukkan bahwa pendidikan dapat dikemas melalui pengalaman langsung yang dekat dengan kehidupan dan kebutuhan siswa. Kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan ribuan porsi makanan, melainkan juga memperkenalkan keterampilan praktis, menumbuhkan rasa percaya diri, membangun kerja sama, dan membuka pandangan siswa terhadap pilihan masa depan.
Minat lebih dari 170 siswa terhadap tata boga menjadi catatan penting yang layak ditindaklanjuti sekolah. Ketertarikan itu berpeluang menjadi kemampuan yang lebih matang bila didukung ruang belajar, fasilitas, pendampingan, dan kesempatan praktik yang memadai.
Pada akhirnya, pendidikan bertujuan tidak hanya mengantarkan siswa menyelesaikan jenjang sekolah, tetapi juga membekali mereka menghadapi kehidupan setelah lulus. Semakin beragam keterampilan yang dapat diakses siswa, semakin luas pula pilihan jalur masa depan yang sesuai dengan minat, potensi, dan kebutuhan dunia kerja.
Melalui kolaborasi pendidikan dan industri, Masak Besar di SMK Kartanegara Wates menjadi contoh bagaimana sebuah peringatan dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman belajar bermakna sekaligus membuka diskusi tentang pentingnya pengembangan keterampilan praktis di lingkungan sekolah.
Pewarta: Alex Franico
Tagline: #HariMuridSedunia2026, #SMKKartanegaraWates, #MasakBesar, #KulinerSMK, #TataBoga, #KolaborasiIndustri, #MagangSiswa, #PendidikanKejuruan,
