RI News, San José, Kosta Rika, 15 Oktober 2026 – Negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai kawasan paling damai di Amerika Tengah itu kini mengambil jalan keamanan yang jauh lebih keras. Presiden Laura Fernández pada Rabu meresmikan penjara berkeamanan tinggi yang dirancang meniru Pusat Penahanan Terorisme (CECOT) milik El Salvador, fasilitas yang menjadi lambang strategi keamanan Presiden Nayib Bukele.
Fasilitas bernama Pusat Pengamanan Tinggi Melawan Kejahatan Terorganisasi itu berkapasitas 5.100 narapidana dan dibangun dengan biaya sekitar 35 juta dolar AS. Pemerintah menyebutnya sebagai tempat menahan para pelaku kejahatan paling berbahaya di negara tersebut.
Menurut lembaga kajian Insight Crime, selama puluhan tahun Kosta Rika hanya menjadi zona transit “pasif” bagi narkoba dari Amerika Selatan. Posisinya berubah karena negara tanpa angkatan bersenjata ini memiliki hutan luas serta pelabuhan di dua pantai, sehingga menarik minat kartel Meksiko dan Kolombia.
Departemen Luar Negeri AS mencatat bahwa terminal kargo baru di Pelabuhan Limón, Karibia, pada akhir dekade lalu mengubah kota itu menjadi lokasi penyimpanan dan pengalihan kapal kokain tujuan Eropa. Laporan lembaga yang sama pada 2025 juga menemukan indikasi peredaran fentanil di negara tersebut.

Kini, Kartel Sinaloa dan Jalisco dari Meksiko, Clan del Golfo dari Kolombia, Tren de Aragua dari Venezuela, serta mafia Italia disebut beroperasi di Kosta Rika. Amerika Serikat menggolongkan sebagian besar kelompok itu sebagai organisasi teroris. Di sisi lain, kartel lokal terus bermunculan.
Peneliti kejahatan terorganisasi di Brookings Institution, Vanda Felbab-Brown, menjelaskan bahwa perebutan jalur baru serta persaingan dua kartel besar Meksiko mendorong kaki tangan lokal saling berhadapan. Dampaknya, angka pembunuhan meningkat. Pembayaran kepada geng dalam bentuk narkoba juga menumbuhkan pasar domestik yang memperparah kekerasan, sementara aparat kewalahan.
Titik kritis terjadi pada 2023, saat Kosta Rika mencatat rekor 907 pembunuhan. Angka itu memang turun, tetapi hanya tipis. Pemerintah mengakui sebagian besar kasus berkaitan dengan kejahatan terorganisasi. Walau situasinya masih jauh dari Ekuador atau Meksiko, isu keamanan menjadi kekhawatiran terbesar warga dan berperan penting dalam kemenangan Fernández.
Pendahulu Fernández, Rodrigo Chaves, lebih dulu mendekati Bukele. Ia menganugerahkan penghargaan diplomatik kepada presiden El Salvador itu dan mengirim menteri keamanannya meninjau CECOT. Bukele membalas dengan menghibahkan desain penjara kepada pemerintah Kosta Rika.
Baca juga : Jembatan Sungai Yalu Baru Akhirnya Beroperasi: Cermin Tarik-Ulur Pengaruh Beijing dan Moskow atas Pyongyang
Bukele berhasil menekan angka pembunuhan di negaranya ke titik terendah dalam sejarah. Namun, ia dituduh melakukan pelanggaran selama keadaan darurat yang berlaku sejak 2022 dan telah menahan lebih dari 91.000 orang. Ia sendiri pernah menyebut dirinya “diktator paling keren di dunia”.
Kosta Rika bukan yang pertama. Ekuador di bawah Daniel Noboa membuka penjara serupa tahun lalu. Honduras merencanakan fasilitas sejenis di sebuah pulau, meski belum terwujud. Presiden-presiden baru Peru dan Kolombia juga menoleh ke model ini, dan Keiko Fujimori dari Peru baru mengumumkan kunjungan ke El Salvador akibat naiknya pembunuhan dan pemerasan. Pendekatan garis keras tersebut sejalan dengan sikap Presiden AS Donald Trump.
Kebijakan semacam ini cenderung populer, dan sebagian besar warga Kosta Rika mendukung penjara baru tersebut. “Banyak orang merasa takut. Menurut saya bagus bahwa mereka membangun penjara dan mengisolasi para penjahat,” kata Carlos Ávila, seorang administrator bisnis.
Meski demikian, Felbab-Brown mengingatkan bahwa reaksi geng kriminal dan masyarakat belum dapat dipastikan. Menurutnya, penangkapan massal berskala seperti di El Salvador berpotensi tidak populer secara politik di Kosta Rika, serta menghadapi hambatan dari sisi intelijen.

Selain penjara, Chaves menempuh jalur lain. Pada 2025 ia merombak konstitusi agar warga Kosta Rika dapat diekstradisi atas kasus perdagangan narkoba dan terorisme. Pada Maret 2026, ekstradisi pertama ke Amerika Serikat dilaksanakan, termasuk terhadap Celso Gamboa, mantan menteri keamanan sekaligus hakim Mahkamah Agung yang dituduh terlibat perdagangan narkoba.
Dalam beberapa bulan terakhir, aparat juga menangkap Alejandro Arias Monge alias “Diablo”, yang disebut sebagai pengedar narkoba paling dicari di negara itu. Presiden turut mengumumkan penyelidikan terhadap 200 anggota polisi.
Di tingkat internasional, Kosta Rika tetap menjadi sekutu dekat Trump, antara lain lewat kesepakatan menerima migran yang dideportasi dan keikutsertaan dalam Shield of the Americas, program yang mencakup patroli maritim.
Pewarta : Vie
Tagline: #KostaRika, #Narkoba, #ElSalvador, #NayibBukele, #KeamananRegional, #KejahatanTerorganisasi, #PenjaraRaksasa, #AmerikaTengah,
