RI News, New York, Rabu, 14 Oktober 2026 – Indonesia menegaskan komitmennya menjadi mitra setara bagi benua Afrika dengan membawa kembali nilai Semangat Bandung ke ruang diplomasi multilateral. Pesan itu disampaikan dalam Sidang Pleno ke-18 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 yang membahas kemajuan pembangunan berkelanjutan di Afrika serta dukungan komunitas internasional.
Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, Duta Besar Umar Hadi, menyampaikan sikap tersebut dalam pertemuan yang berlangsung di tengah transformasi kerangka pembangunan Afrika, dari New Partnership for Africa’s Development (NEPAD) menuju Agenda 2063 Uni Afrika. Dalam pernyataan yang diterima di Jakarta pada Rabu, ia menegaskan posisi Indonesia sebagai sahabat yang berjalan beriringan dengan Afrika.
“Indonesia berdiri bersama Afrika sebagai mitra, berlandaskan solidaritas dan saling menghormati,” ujar Umar Hadi.
Dalam pidatonya, Umar menghidupkan kembali pesan Presiden Soekarno pada Konferensi Asia Afrika 1955 tentang hak bangsa-bangsa Asia dan Afrika menentukan masa depannya sendiri. Menurutnya, setelah lebih dari tujuh dekade, negara-negara kedua kawasan telah mencatat berbagai kemajuan dan kini memiliki peran yang kian besar dalam membentuk arah pembangunan global.

Dari sudut pandang sejarah diplomasi, rujukan itu bukan sekadar nostalgia. Semangat Bandung ditempatkan sebagai landasan moral sekaligus pijakan praktis bagi kerja sama Selatan-Selatan yang berorientasi hasil.
Indonesia menyambut baik proyeksi pertumbuhan ekonomi Afrika sebesar 4,4 persen pada 2025, dengan 22 negara mencatat ekspansi di atas 5 persen. Angka tersebut dinilai mencerminkan ketahanan dan potensi besar benua itu dalam mewujudkan Agenda 2063, yakni visi tentang Afrika yang makmur, terintegrasi, dan damai.
Meski demikian, Indonesia mengingatkan bahwa laju positif itu belum sepenuhnya bebas hambatan. Sejumlah tantangan masih membayangi, antara lain tingginya biaya pinjaman, terbatasnya akses pembiayaan pembangunan, serta belum optimalnya manfaat ekonomi dari kekayaan sumber daya alam Afrika.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Umar mengajukan tiga prioritas. Pertama, memperkuat kedaulatan ekonomi melalui penciptaan nilai tambah sumber daya nasional, merujuk pada pengalaman hilirisasi yang dijalankan Indonesia.
Kedua, menempatkan investasi sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Salah satu wujudnya adalah kerja sama pendidikan dan pelatihan pertanian dengan negara-negara Afrika.
Ketiga, menerjemahkan Semangat Bandung menjadi kemitraan nyata di bidang perdagangan, investasi, dan peningkatan kapasitas.
Untuk menunjukkan keseriusan, Umar memaparkan capaian konkret. Dalam satu dekade terakhir, sekitar 500 peserta dari Afrika telah menerima manfaat dari lebih dari 60 proyek Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular Indonesia, mencakup kesehatan, teknologi pertanian, dan peternakan.
Di sektor ekonomi, Forum Indonesia-Afrika pertama pada 2018 melahirkan kesepakatan bisnis hampir 600 juta dolar AS. Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue pada 2019 menyusul dengan nilai lebih dari 800 juta dolar AS. Pada 2024, Forum Indonesia-Afrika kedua menghasilkan 32 kesepakatan kerja sama senilai lebih dari 3,5 miliar dolar AS di berbagai sektor strategis.
Rangkaian capaian itu memperlihatkan pola yang konsisten: dari dialog politik, kerja sama berkembang menjadi transaksi ekonomi dan transfer kapasitas yang dapat diukur. Pendekatan tersebut menjadi modal Indonesia untuk terus mendorong kemitraan yang menempatkan Afrika sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan.
Pewarta: Albertus Parikesit
Tagline: #SemangatBandung, #IndonesiaAfrika, #SidangPlenoPBB, #Agenda2063, #KedaulatanEkonomi, #Hilirisasi, #KerjaSamaSelatanSelatan, #UmarHadi,
