RI News. Jakarta, 10 Juli 2026 — Peluncuran program mandatori Biodiesel 50 (B50) oleh Presiden Prabowo Subianto di Rest Area KM 57 Karawang, Jawa Barat, menuai harapan besar dari berbagai kalangan pengguna jalan. Program ini diharapkan tidak hanya membersihkan udara dari polusi kendaraan tetapi juga menekan biaya bahan bakar agar lebih terjangkau bagi masyarakat.
Pengguna kendaraan pribadi Rafi menyambut positif langkah pemerintah ini. Menurutnya, peningkatan kandungan energi nabati dalam biodiesel membawa dampak nyata bagi lingkungan. “Saya rasa dengan adanya B50 ini jauh lebih ‘go green’ lah ya kurang lebih seperti itu. Salah satu gerakan pemerintah untuk mengurangi polusi,” ujar Rafi.
Rafi juga berharap program ini dapat menjamin pasokan bahan bakar yang lebih stabil. Selama ini, ia kerap mengalami kesulitan mendapatkan solar konvensional. “Harapannya lebih, stok harusnya lebih melimpah ya. Jadi kadang-kadang saya juga kesulitan tuh sebelum adanya B50. Jadi seharusnya sih setelah ini B50 stabil lah untuk stok. Kalau untuk harga sih sudah murah lah udah bagus,” tambahnya.

Apresiasi serupa disampaikan Rafi terhadap komitmen pemerintah yang terus berinovasi. “Terima kasih untuk pemerintah yang sudah bekerja terus menerus melakukan inovasi setiap harinya untuk masyarakat, kepentingan kita semua,” katanya.
Sementara itu, Oyo, pedagang kelapa asal Ciamis yang rutin melintasi jalur jauh menuju Indramayu dan Karawang, melihat B50 sebagai solusi bagi pelaku usaha kecil. Biaya bahan bakar menjadi beban signifikan dalam usahanya. “Ya mudah-mudahan ke depannya bisa lancar, lebih murah, di mesin bagus. Ya mudah-mudahan pemerintah ke masyarakat—BBM ya standar jangan naik terus biar enak di masyarakat,” harap Oyo.
Bagi Imron, seorang sopir truk, Kamis (9/7) menjadi hari pertama ia mencoba B50. Meski belum merasakan perubahan performa mesin secara langsung, ia optimistis bahan bakar berbasis sawit ini dapat memberikan keuntungan ekonomi yang lebih baik. “Semoga lebih murah, jangan disamain sama biosolar. Karena ini kan B50 produksi dari sawit,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Vivi, yang selama ini mengandalkan biosolar. Ia menilai kehadiran B50 sebagai peluang strategis mengurangi ketergantungan impor energi. “Ya bagus sih kalau memang nggak usah impor lagi, supaya nanti berharap sih ke depannya bisa lebih murah, terus bagus buat mobil, buat mesin solarnya,” ungkap Vivi.
Di sektor transportasi dan logistik, Riandi yang bekerja di perusahaan perjalanan melihat B50 sebagai inovasi penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional. “Sangat bagus terutama untuk warga Indonesia yang menggunakan solar, sangat bagus sekali. Mudah-mudahan sih selalu berkembang biosolar, lebih murah, terus lebih bagus ke mesin terutama untuk penggunanya,” katanya.
Peluncuran B50 ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam upaya transisi energi ramah lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pengguna jalan di Indonesia.
Pewarta : Albertus Parikesit
Tagline: #B50Mandatori, #BiodieselIndonesia, #GoGreenPrabowo, #EnergiNabati, #KurangiPolusi, #BBMMurah, #KetahananEnergi,

