RI News. New Delhi – Di tengah gelombang percepatan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif, Indonesia menegaskan posisinya sebagai suara penting dari negara-negara berkembang. Melalui Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, Indonesia mendorong pengembangan AI yang tidak sekadar canggih secara teknis, melainkan benar-benar berorientasi pada kepentingan publik dan pembangunan sosial berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Nezar Patria dalam diskusi panel tingkat tinggi di India AI Impact Summit 2026 yang berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, pada 16–20 Februari 2026. Forum ini menjadi ajang bagi pemimpin global untuk beralih dari sekadar membahas risiko dan regulasi AI menuju implementasi nyata yang berdampak bagi masyarakat luas.
Nezar Patria menilai bahwa dampak AI di tingkat dunia saat ini baru mencapai skala “enam dari sepuluh”. Meski teknologi telah merambah berbagai aspek kehidupan, distribusi manfaatnya masih timpang, terutama di negara-negara berkembang. “Kita tidak boleh puas hanya dengan membangun infrastruktur digital. Yang terpenting adalah menciptakan akses bermakna—meaningful access—sehingga AI sungguh-sungguh menjadi alat pemecah masalah riil masyarakat,” ujarnya dalam sesi panel yang dihadiri perwakilan dari berbagai negara Global South.

Indonesia, bersama Togo dan Mesir, tampil dalam panel khusus yang membahas bagaimana negara berkembang bisa mengarahkan AI agar menghasilkan dampak konkret. Delegasi Togo menekankan urgensi pembangunan kapasitas sumber daya manusia digital dan penguatan institusi publik untuk adopsi AI yang bertanggung jawab. Sementara perwakilan Mesir menyoroti perlunya kerangka tata kelola yang seimbang antara dorongan inovasi dan perlindungan masyarakat, termasuk menjaga kedaulatan data nasional.
Dari perspektif Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keberagaman geografis ekstrem, Nezar Patria berbagi pengalaman bagaimana konektivitas digital dan AI menjadi kunci pemerataan layanan publik. Dengan lebih dari 80 persen penduduk kini terjangkau internet, fokus nasional bergeser dari sekadar perluasan akses menuju optimalisasi pemanfaatan teknologi. AI diarahkan untuk mendukung layanan kesehatan, pendidikan berkualitas, hingga pemberdayaan ekonomi di tingkat lokal dan desa.
Baca juga : Renegosiasi Tarif AS-Indonesia: Peluang di Tengah Ketidakpastian Putusan Mahkamah Agung
Partisipasi aktif Indonesia dalam forum ini menandai pergeseran signifikan dalam dinamika tata kelola teknologi global. Negara-negara Global South tidak lagi hanya sebagai konsumen pasif teknologi dari negara maju, melainkan aktor yang ikut menentukan arah pengembangan AI. Melalui kolaborasi lintas negara, mereka mendorong AI sebagai “public good”—barang publik yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat kesejahteraan sosial dan keadilan digital.
Indonesia memposisikan diri sebagai “bridge country” yang menjembatani kepentingan beragam di panggung internasional. Di tengah dominasi perusahaan teknologi raksasa dan negara maju, suara dari negara berkembang semakin lantang menuntut metrik keberhasilan AI yang lebih manusiawi: bukan hanya kecanggihan algoritma, melainkan peningkatan kualitas hidup bagi seluruh lapisan masyarakat.
India AI Impact Summit 2026 sendiri menjadi tonggak penting bagi upaya kolektif ini. Dengan mengusung tema transisi dari ambisi ke aksi nyata, forum tersebut memperkuat komitmen bersama untuk membangun ekosistem AI yang inklusif, dapat dipercaya, dan benar-benar berpihak pada kepentingan umat manusia. Bagi Indonesia, keterlibatan ini bukan hanya representasi diplomatik, melainkan langkah strategis memperkuat peran dalam membentuk masa depan teknologi yang lebih adil dan berkelanjutan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

