RI News Portal. Semarang – Di tengah identitas kuat sebagai pusat industri alas kaki, Provinsi Jawa Tengah kini menyaksikan lonjakan minat dari sektor-sektor berinvestasi besar, menandai pergeseran dinamika ekonomi yang lebih berimbang. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, dalam konferensi pers di Semarang pada hari Kamis. Menurutnya, pertumbuhan ini tidak hanya mendiversifikasi portofolio investasi, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi regional yang lebih tahan banting terhadap fluktuasi global.
Selama bertahun-tahun, Jawa Tengah telah dikenal sebagai ekosistem utama untuk industri padat karya, khususnya produksi alas kaki yang mendominasi realisasi investasi. Namun, Rosellasari mengungkapkan bahwa tren baru mulai muncul, dengan sektor padat modal—atau capital intensive—menunjukkan gairah yang signifikan. “Kami melihat realisasi investasi yang mencolok di bidang-bidang seperti fiber optik, alat kesehatan, industri karet dan plastik, serta baterai,” ujarnya. Salah satu contoh nyata adalah pembangunan pabrik anoda baterai di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, dengan nilai investasi mencapai Rp1,5 triliun. Selain itu, proyek industri ban di Kabupaten Demak menyumbang tambahan Rp1,08 triliun, menegaskan potensi Jawa Tengah sebagai destinasi bagi investasi bernilai tinggi.

Perubahan ini, kata Rosellasari, mencerminkan strategi pemerintah provinsi untuk menarik modal asing dan domestik yang lebih beragam. Pemerintah setempat berkomitmen memberikan pelayanan optimal bagi kedua jenis sektor: padat modal yang mampu mendongkrak nilai total investasi, serta padat karya yang tetap vital dalam menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. “Kami ingin keduanya berjalan paralel. Meskipun kawasan industri semakin dilirik oleh sektor padat modal, ekosistem alas kaki yang sudah kuat tetap menjadi prioritas kami,” tambahnya. Pendekatan ini diharapkan menciptakan keseimbangan, di mana pertumbuhan ekonomi tidak hanya diukur dari besaran modal, tetapi juga dari dampak sosial seperti penciptaan lapangan kerja berkelanjutan.
Kinerja investasi Jawa Tengah sepanjang 2025 semakin menguatkan narasi ini. Realisasi investasi mencapai Rp88,50 triliun, melampaui target sebesar Rp78,33 triliun dengan pencapaian 112,98 persen. Komposisinya terdiri dari penanaman modal dalam negeri senilai Rp37,64 triliun dan penanaman modal asing Rp50,86 triliun. Dari total ini, terdapat 105.078 proyek yang berhasil menyerap 418.138 tenaga kerja Indonesia. Sektor unggulan mencakup industri barang dari kulit dan alas kaki dengan kontribusi Rp11,37 triliun, diikuti oleh industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam sebesar Rp9,70 triliun. Selanjutnya, industri karet dan plastik menyumbang Rp8,96 triliun, tekstil Rp7,97 triliun, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp7,47 triliun.
Baca juga : Revolusi Dokter: Strategi Pemerintah Tingkatkan Produksi Medis Tanpa Kompromi Kualitas
Secara geografis, minat investor terfokus pada wilayah strategis seperti Kabupaten Kendal dengan realisasi Rp15,86 triliun, Kota Semarang Rp11,15 triliun, Kabupaten Demak Rp9,06 triliun, Kabupaten Batang Rp6,73 triliun, dan Kabupaten Semarang Rp4,38 triliun. Pola ini menunjukkan konsentrasi pada area dengan infrastruktur matang, seperti kawasan ekonomi khusus dan koridor industri yang terhubung dengan pelabuhan dan jaringan transportasi.
Dari sisi asal investor, Hong Kong menduduki posisi teratas, diikuti oleh Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, dan Samoa Barat. Kehadiran investor asing ini tidak hanya membawa modal, tetapi juga transfer teknologi dan pengetahuan, yang potensial mempercepat transisi Jawa Tengah menuju ekonomi berbasis inovasi. Analis ekonomi menilai tren ini sebagai sinyal positif bagi ketahanan regional, terutama di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan ketegangan perdagangan. Namun, tantangan tetap ada, termasuk kebutuhan akan regulasi yang lebih adaptif untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kapital dan inklusivitas sosial.
Dengan momentum ini, Jawa Tengah berpotensi menjadi model bagi provinsi lain di Indonesia dalam mengintegrasikan investasi padat modal dengan basis padat karya yang sudah mapan. Rosellasari menekankan bahwa keberhasilan ini bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, investor, dan masyarakat lokal, memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar berkelanjutan dan merata.
Pewarta : Sriyanto

